CNN Indonesia
Kamis, 18 Jun 2026 12:00 WIB
Ilustrasi. Ibu mengandung tetap bisa healing dan traveling. (Istockphoto/Rommel Gonzalez)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kehamilan bukan berfaedah kudu menghentikan seluruh aktivitas, termasuk berjalan alias traveling. Namun, ibu hamil tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatan dan usia kehamilan sebelum memutuskan melakukan perjalanan jarak jauh.
Dokter ahli obstetri dan ginekologi RS Universitas Indonesia (RSUI), Natasya Prameswari mengatakan perjalanan jarak jauh pada ibu mengandung umumnya tetap diperbolehkan, terutama saat memasuki trimester kedua kehamilan.
Menurutnya, trimester kedua sering disebut sebagai periode paling nyaman dalam kehamilan lantaran akibat komplikasi relatif lebih rendah dibandingkan trimester pertama maupun trimester ketiga nan sudah mendekati persalinan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada trimester kedua, biasanya kehamilan sudah tidak terlalu berisiko seperti di trimester pertama maupun trimester ketiga nan sudah mendekati persalinan," kata Natasya mengutip Antara.
Meski demikian, dia menekankan bahwa ibu mengandung tetap kudu berkonsultasi dengan master kandungan sebelum melakukan perjalanan. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan tidak ada penyulit kehamilan nan dapat meningkatkan akibat selama perjalanan.
Berikut tips nan dibagikan Natasya:
1. Pilih transportasi nan nyaman
Natasya menjelaskan ibu mengandung dapat menggunakan beragam moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara. Namun, aspek kenyamanan kudu menjadi pertimbangan utama.
Ia tidak menyarankan ibu mengandung melakukan perjalanan dengan kondisi nan membikin tubuh sigap capek alias tidak nyaman selama perjalanan berlangsung.
Selain itu, calon ibu juga perlu memahami tanda-tanda ancaman kehamilan nan mungkin muncul sewaktu-waktu, seperti kontraksi, perdarahan, pecah ketuban, alias nyeri nan tidak biasa.
Karena itu, krusial untuk mengetahui letak akomodasi kesehatan di tempat tujuan maupun sepanjang rute perjalanan. Langkah ini dapat membantu ibu mengandung memperoleh pertolongan medis dengan sigap jika terjadi kondisi darurat.
2. Jangan duduk terlalu lama
Perjalanan jarak jauh membikin seseorang kudu duduk dalam waktu lama. Pada ibu hamil, kondisi ini dapat meningkatkan akibat terjadinya Deep Vein Thrombosis (DVT) alias pembekuan darah di pembuluh vena.
Untuk mengurangi akibat tersebut, Natasya menyarankan penggunaan stoking kompresi selama perjalanan. Selain itu, ibu mengandung juga perlu melakukan peregangan ringan secara berkala.
"Stretching ringan, mungkin meregangkan kaki, meregangkan tangan, apalagi jalan-jalan, asalkan tidak berada dalam satu posisi terus-menerus setiap dua sampai tiga jam andaikan traveling jarak jauh," ujarnya.
3. Jika berjalan sendiri, beri tahu petugas
Bagi ibu mengandung nan terpaksa melakukan perjalanan seorang diri, Natasya menyarankan untuk memberitahukan status kehamilan kepada petugas transportasi alias pihak berkuasa nan bertugas.
Dengan begitu, jika terjadi masalah kesehatan selama perjalanan, petugas dapat memberikan support alias penanganan lebih cepat.
Selain itu, ibu mengandung juga dianjurkan tidak membawa terlalu banyak peralatan nan melampaui keahlian fisiknya. Mengangkat beban berat berisiko menimbulkan kelelahan dan ketidaknyamanan selama perjalanan.
4. Jangan lupa bawa kitab kontrol kehamilan
Satu perihal krusial nan kerap terlupakan adalah membawa arsip kesehatan selama bepergian. Natasya mengingatkan ibu mengandung untuk selalu membawa kartu identitas dan kitab kontrol kehamilan.
Dokumen tersebut dapat membantu tenaga kesehatan di letak tujuan memahami riwayat kehamilan jika sewaktu-waktu diperlukan pemeriksaan alias penanganan medis.
"Ibu mengandung saat traveling nan jelas kudu membawa kartu identitas. Pastikan juga membawa kitab kontrolnya. Apabila terjadi sesuatu nan tidak diinginkan, ada catatan pemeriksaan sebelumnya nan bisa dilihat master di tempat tujuan," katanya.
4. Waspadai kelelahan dan stres
Menurut Natasya, akibat perjalanan pada ibu mengandung tidak hanya dipengaruhi oleh moda transportasi, tetapi juga jarak tempuh dan kondisi bentuk selama perjalanan.
Kelelahan berlebihan dan stres dapat memicu munculnya kontraksi, termasuk kontraksi palsu. Namun, jika kontraksi berjalan terus-menerus, disertai perdarahan alias pecah ketuban, ibu mengandung kudu segera memeriksakan diri ke akomodasi kesehatan terdekat.
Karena itu, sebelum merencanakan liburan alias perjalanan dinas, pastikan kondisi kehamilan telah dinyatakan kondusif oleh dokter. Dengan persiapan nan matang, traveling saat mengandung tetap bisa dilakukan dengan nyaman tanpa mengorbankan kesehatan ibu maupun janin.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·