CNN Indonesia
Kamis, 18 Jun 2026 14:00 WIB
Ilustrasi. Ada sejumlah kalimat sepele nan sering diucapkan orang tua, rupanya bisa bikin rasa percaya diri anak menurun. (iStock/imtmphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Rasa percaya diri anak tidak tumbuh begitu saja, tetapi dibangun sedikit demi sedikit dari pengalaman dan lingkungan terdekatnya. Salah satu aspek terbesar nan memengaruhinya, ialah cara orang tua berbincang kepada anak setiap hari.
Tanpa sadar, ada banyak kalimat nan terdengar sepele terlontar dari mulut orang tua, tetapi justru bisa menurunkan rasa percaya diri anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika diucapkan berulang kali, kalimat seperti ini dapat membikin anak merasa tidak cukup baik, tidak mampu, apalagi takut mencoba perihal baru.
Kalimat sepele nan bikin percaya diri anak turun
Penting bagi orang tua untuk menyaring kembali ucapannya terhadap anak nan sedang tumbuh kembang. Supaya rasa percaya diri anak tetap terjaga, sebaiknya hindari kalimat-kalimat berikut ini:
1. "Kamu tidak bakal pernah berhasil"
Kalimat ini termasuk ucapan nan sangat merusak lantaran memberi label absolut pada anak. Kata-kata seperti "tidak pernah" alias "selalu" condong membikin anak merasa usahanya sia-sia.
Akibatnya, percaya diri anak bisa turun drastis lantaran dia menganggap dirinya memang tidak mampu. Sebaiknya, fokuslah pada perilaku nan perlu diperbaiki, bukan menyerang nilai dirinya.
2. "Kenapa Anda melakukan itu?"
Sekilas terdengar seperti pertanyaan biasa, tetapi kata 'kenapa' sering membikin anak jadi defensif. Anak bisa merasa dihakimi dan akhirnya menutup diri.
Menurut psikolog anak, Caroline Danda, anak-anak sering kali sudah tahu terlebih dulu bahwa mereka membikin pilihan buruk.
"Bertanya 'kenapa' dapat menyebabkan rasa malu dan menginternalisasi bahwa ada sesuatu nan salah dengan diri mereka. Katakan saja, 'Bantu saya memahami apa nan terjadi' alias 'Jelaskan gimana Anda membikin pilihan ini,'" ujar Danda, dilansir Parade.
3. "Sini, biar Ayah/Ibu saja nan kerjakan"
Ucapan ini sering keluar saat orang tua terburu-buru. Padahal, kalimat sepele seperti ini bisa membikin anak merasa tidak cakap.
Jika terlalu sering mendengarnya, anak bakal ragu pada kemampuannya sendiri. Lebih baik beri kesempatan anak mencoba, lampau bantu pada bagian nan memang sulit.
4. "Mengapa Anda tidak bisa seperti kakakmu/temanmu?"
Membandingkan anak dengan kerabat alias temannya bukanlah motivasi nan sehat. Menurut Times of India, perihal ini justru dapat menumbuhkan rasa iri, kecewa, dan rendah diri.
Anak bakal menangkap pesan bahwa dirinya kurang berharga. Untuk menjaga percaya diri anak, hargai karakter dan kelebihan nan dia miliki.
5. "Kamu terlalu sensitif" alias "Sudah, jangan nangis"
Banyak orang tua mengucapkannya untuk meredakan situasi. Namun, kalimat ini justru mengabaikan emosi anak.
Anak bisa mengira perasaannya salah alias memalukan. Dalam jangka panjang, dia menjadi ragu mengekspresikan diri. Sebaiknya, pengesahan emosinya dengan lembut, misalnya, "Ibu tahu Anda sedang sedih, yuk cerita."
6. "Ah, itu kan bukan masalah besar"
Bagi orang tua, masalah anak mungkin terlihat kecil. Namun, bagi anak, itu bisa terasa besar dan menakutkan. Saat perasaannya diremehkan, anak merasa tidak dipahami.
"Misalnya, mengatakan sesuatu seperti 'Ini tidak menakutkan' kepada anak nan resah tentang sesuatu, memperkuat dugaan bahwa emosi mereka tidak valid," kata terapis Jill DiPietro, seperti dikutip dari laman Tinybeans.
Tips dari DiPietro, orang tua perlu memahami emosi anak, lampau berikan support secara emosional dan menemani anak menghadapi ketakutannya.
7. "Kamu memang kurang usaha"
Kalimat ini sering dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi hasilnya justru sebaliknya. Anak bisa merasa upaya terbaiknya tetap tidak pernah cukup.
Lama-kelamaan, dia kehilangan semangat dan meragukan kemampuannya sendiri. Daripada menghakimi, bantu anak mengevaluasi apa nan bisa diperbaiki di upaya berikutnya.
Menjaga rasa percaya diri anak tidak selalu memerlukan tindakan besar, tetapi bisa dimulai dari memilih ucapan nan tepat setiap hari.
Banyak kalimat sepele nan terdengar biasa rupanya menyimpan akibat besar bagi perkembangan mental anak. Oleh lantaran itu, orang tua perlu lebih peka agar tidak asal berbincang saat emosi.
(rti)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·