Jakarta, CNN Indonesia --
Wabah Ebola nan melanda Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) belum mencapai titik puncaknya dan berpotensi berjalan hingga satu tahun ke depan. Peringatan tersebut disampaikan Palang Merah Internasional di tengah meningkatnya jumlah kasus dan keterbatasan kapabilitas pengetesan di wilayah terdampak.
Sejak pandemi diumumkan pada 15 Mei lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 808 kasus Ebola nan telah terkonfirmasi di RD Kongo, dengan sedikitnya 192 kematian.
Berbicara dari Bunia, ibu kota Provinsi Ituri nan menjadi episentrum wabah, Manajer Operasi Ebola Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), Bruno Michon, mengatakan situasi di lapangan menunjukkan penyebaran virus tetap jauh dari terkendali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Bunia, nan saya lihat adalah kami belum mencapai puncak epidemi," kata Michon kepada wartawan di Jenewa melalui sambungan video, Selasa (16/6) dikutip dari AFP.
Menurut dia, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan pandemi saat ini adalah minimnya kapabilitas pengujian. Kondisi tersebut membikin petugas kesehatan kesulitan mengetahui sejauh mana virus telah menyebar di masyarakat.
"Puncaknya, menurut saya, bukan berada di belakang kita, melainkan tetap di depan," ujar Michon.
Ia menambahkan pihaknya cemas pandemi ini dapat berjalan hingga satu tahun sebelum betul-betul sukses dikendalikan.
Tidak seperti beberapa jenis Ebola lain nan telah mempunyai vaksin alias terapi tertentu, hingga sekarang belum ada vaksin maupun pengobatan nan disetujui untuk strain Bundibugyo, jenis virus nan menyebabkan pandemi saat ini.
Meski berpusat di Provinsi Ituri, kasus Ebola juga telah terdeteksi di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan. Penyebaran virus apalagi telah melintasi perbatasan ke Uganda.
Hingga saat ini, Uganda melaporkan 19 kasus terkonfirmasi Ebola, termasuk dua kematian.
Michon menegaskan bahwa keberhasilan mengendalikan pandemi tidak hanya berjuntai pada respons medis, tetapi juga pada keahlian membangun kepercayaan masyarakat di wilayah terdampak.
"Untuk menghentikan pandemi ini, kita perlu berinvestasi bukan hanya pada respons medis, tetapi juga pada kepercayaan, relawan lokal, keterlibatan masyarakat, dan akses operasional," katanya.
Ia mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, relawan Palang Merah di RD Kongo menghadapi beragam corak penolakan saat menjalankan tugas, mulai dari pelecehan verbal, ancaman, hingga serangan fisik.
Menurut Michon, kepercayaan masyarakat merupakan komponen nan sangat krusial dalam upaya memutus rantai penularan Ebola.
"Kepercayaan bukanlah aktivitas sekunder dalam respons Ebola. Kepercayaan adalah inti dari semuanya. Tanpa kepercayaan, kami tidak dapat mendeteksi kasus lebih awal, tidak dapat memastikan pemakaman nan aman, tidak dapat melindungi keluarga, dan tidak dapat menghentikan penularan," ujarnya.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·