Jakarta -
Pemerintah tengah menyiapkan skema insentif untuk kendaraan listrik alias electric vehicle (EV) nan menggunakan baterai berbasis nikel. Salah satu opsi nan dibahas adalah penanggungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) oleh pemerintah dengan besaran nan bervariasi.
Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, besaran skema PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) bervariasi mulai dari 40% hingga 100%. Menurutnya perihal ini tetap didiskusikan oleh pemerintah.
"Jadi nan diomongin tadi PPN ditanggung pemerintah itu ada nan 100%, ada nan 40%, kelak tetap masih didiskusikan skemanya. Itu untuk utamanya EV, nan bukan hybrid. Nanti nan baterainya berasas nikel sama non-nikel bakal beda skemanya. Tapi nan itu nanti, kelak Menteri Perindustrian," ujar Purbaya dalam konvensi pers APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai nikel kemungkinan bakal lebih besar. Kebijakan ini disusun untuk mendorong pemanfaatan nikel menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia.
Purbaya menyinggung adanya pemberitaan dari media internasional nan meragukan potensi nikel Indonesia setelah China menerapkan teknologi baterai non-nikel. Namun, pemerintah tak lenyap logika dan terus mendorong pengembangan baterai berbasis nikel sebagai bagian dari strategi hilirisasi.
"Kenapa saya pakai nan nikel lebih besar subsidinya, lantaran agar nikel kita kepake. Dulu saya baca di Economist, judulnya 'Mimpi Indonesia Menguasai Dunia Baterai hilang' lantaran China pakai bukan nikel. Kita kembali sekarang, nikelnya kita pakai, biar punya kita nikelnya bisa terpakai dan hilirisasi teknologi baterainya berjalan," jelas Purbaya.
Ia menyatakan berasas obrolan dengan Chief Technology Officer (CTO) Danantara, Sigit Puji Santosa, teknologi baterai berbasis nikel dinilai lebih maju dibandingkan generasi sebelumnya. Dengan kebijakan ini, pemerintah berambisi dapat mempercepat pengembangan industri baterai dalam negeri.
"Tadi saya tanya Pak Sigit di Danantara, dia kan ahlinya. 'Itu nikel sama nan China bagus mana baterainya?' Dia bilang bagusnya nan nikel, itu third generation. Kalau nan LTE itu second generation. Jadi kita geraknya ke sana, agar sumber daya kita juga bisa dipakai secara maksimal," tutup Purbaya.
(acd/acd)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·