Jakarta, CNN Indonesia --
Iran menuduh Amerika Serikat menjadi dalang serangan drone dan rudal ke kilang minyak Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin (4/5).
Pejabat militer Iran nan tak mau disebutkan namanya mengatakan Teheran tak ada rencana menyerang akomodasi daya negara tetangganya. Dia justru menyalahkan Amerika Serikat dan menuntut mereka bertanggung jawab.
"Republik Islam tak punya program nan direncanakan sebelumnya untuk menyerang akomodasi minyak nan disebutkan, dan apa nan terjadi adalah hasil dari petualangan militer AS nan bermaksud menciptakan jalur bagi transit terlarangan kapal melalui jalur air terlarang di Selat Hormuz," kata pejabat itu, dikutip Al Jazeera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia lampau berujar, "Militer AS kudu dimintai pertanggungjawaban atas perihal ini."
AS, kata pejabat itu, kudu mengakhiri praktik tak layak seperti penggunaan kekerasan dalam proses diplomatik dan menghentikan tindakan mereka di perairan tersebut.
Komentar itu muncul usai UEA menuding Iran menggempur kilang minyak itu dengan drone dan pesawat tak berawak.
Ribut-ribut serangan ini bermulai setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mencegah kapal perang AS memasuki Selat Hormuz dengan peringatan tegas dan cepat.
Menurut sumber, dua rudal menghantam fregat AS di dekat Pulau Jask, Iran. Namun, militer AS membantah tuduhan ini.
Tak lama kemudian, UEA mengumumkan Iran sudah meluncurkan dua drone kapal tanker Barakah nan berafiliasi dengan Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) nan sedang melewati selat tersebut.
Penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, lantas mengutuk serangan terhadap kapal tanker sebagai "pembajakan maritim." Sementara itu, ADNOC menyatakan tak ada nan terluka dan kapal tidak mengangkut muatan.
Rentetan rudal dan drone pun menyusul. Emirat Fujairah menyatakan drone Iran memicu "kebakaran besar" di Zona Industri Perminyakan Fujairah dan tiga penduduk negara India mengalami luka imbas serangan tersebut.
Terpisah, Kementerian Pertahanan UEA menyatakan sistem pertahanan udara mereka sukses mencegat 12 rudal balistik nan diluncurkan dari Iran. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri UEA mengecam tindakan tersebut.
"[Kami mengutuk keras] serangan teroris Iran nan kembali terjadi dan tidak beralasan, nan menargetkan letak dan akomodasi sipil di negara tersebut," demikian rilis Kemlu.
Mereka juga menyebut tak bakal mentolerir ancaman apa pun terhadap keamanan dan kedaulatan UEA serta memperingatkan bahwa mereka punya "hak penuh dan sah untuk menanggapi" serangan tersebut.
(isa/dna)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·