Jakarta, CNN Indonesia --
Ketua parlemen Iran Mohammad Ghalibaf menegaskan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) siap menggempur Amerika Serikat dan Israel jika gencatan senjata sementara tak diperpanjang dan berhujung pada Rabu (22/4).
Dalam unggahannya di X pada Senin (20/4), Ghalibaf menegaskan Iran juga ogah melanjutkan perundingan tenteram putaran kedua dengan AS lantaran menilai Presiden Donald Trump tak betul-betul beriktikad menggelar negosiasi tenteram demi mengakhiri perang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Trump bukan mencari jalan tengah tapi seenaknya menjadikan meja perundingan sarana untuk memenuhi seluruh kepentingan AS.
"Kami tidak menerima perundingan di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua pekan terakhir kami telah bersiap mengungkap kartu-kartu baru di medan perang," ujar Ghalibaf dalam kicauannya.
AS dan Iran sepakat gencatan senjata dua pekan nan mulai bertindak pada 8 April. Beberapa hari kemudian mereka menggelar negosiasi di Islamabad, Pakistan, untuk membahas kesepakatan lebih lanjut.
Namun, pembicaraan berhujung buntu. AS dan Iran dijadwalkan bakal menggelar negosiasi putaran kedua pada pekan ini.
Namun, Iran menolak mentah-mentah mengingat AS dianggap tak mematuhi kesepakatan.
Ghalibaf memandang Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump melanggar gencatan dengan memberlakukan blokade di Selat Hormuz dan menyerang kapal-kapal Iran.
Dia juga menyebut pemerintahan Trump berupaya mengubah meja perundingan jadi meja penyerahan diri untuk membenarkan kembali provokasi perang.
"Trump, dengan menerapkan blokade dan melanggar gencatan senjata, berupaya mengubah meja perundingan ini dalam imajinasinya sendiri menjadi meja penyerahan diri alias sebagai pembenaran untuk kembali menyalakan perang," ujar Ghalibaf
AS sementara itu, memprediksi kesempatan gencatan diperpanjang kecil.
"Sangat mini kemungkinan saya bakal memperpanjangnya," kata Trump saat wawancara dengan Bloomberg, dikutip CNN.
Trump memperkirakan jika AS-Iran kandas mencapai kesepakatan, perang bisa kembali berkobar.
AS dan Israel menggempur habis-habisan Iran sejak 28 Februari. Operasi ini menyebabkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat tinggi Iran lain tewas.
Di hari nan sama, Iran membalas serangan. Peperangan kian mengkhawatirkan lantaran AS dan Iran sama-sama melakukan blokade di Selat Hormuz.
(isa/rds)
Add
as a preferred source on Google
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·