Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah sumber mengatakan akomodasi nuklir Iran disebut tak mengalami kerusakan dalam serangan sadis Amerika Serikat dan Israel nan dimulai pada 28 Februari itu.
Fasilitas nuklir mengalami kerusakan terbatas imbas perang 12 Hari pada Juni tahun lalu, tetapi tak runtuh dalam perang kali ini.
Sumber-sumber nan mengetahui masalah tersebut mengatakan program nuklir Iran secara umum tak berubah apalagi setelah perang AS-Israel selama dua bulan ini. Sumber itu mengatakan serangan AS kali ini lebih konsentrasi ke keahlian militer konvensional, kepemimpinan Iran, dan pedoman industri militernya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkiraan nan tidak berubah itu mungkin juga lantaran sasaran nuklir utama nan memang susah dihancurkan.
Dua sumber juga mengatakan, menurut penilaian badan intelijen AS, sebelum perang 12 hari kemungkinan Iran bisa memproduksi uranium tingkat peledak nan cukup untuk membikin senjata dan membangun peledak dalam waktu sekitar tiga hingga enam bulan.
Dalam Perang 12 Hari, AS dan Israel menggempur akomodasi nuklir di Natanz, Fordow, dan Isfahan. Serangan ini, menurut klaim AS, menghancurkan alias merusak parah tiga pabrik pengayaan itu.
Serangan AS-Israel tahun lampau itu menggeser jangka waktu sekitar sembilan bulan hingga satu tahun untuk membikin senjata nuklir.
Kantor Direktur Intelijen Nasional tak segera memberi tanggapan saat dimintai komentar soal perihal tersebut. Sementara itu, ahli bicara Gedung Putih mengatakan perang AS-Israel berakibat ke pertahanan Iran.
"Meskipun Operasi Midnight Hammer menghancurkan akomodasi nuklir Iran, Operasi Epic Fury melanjutkan keberhasilan ini dengan memusnahkan pertahanan Iran nan pernah mereka manfaatkan sebagai perisai," kata dia, dikutip Straits Times, Selasa (5/5).
Presiden AS Donald Trump, lanjut dia, sudah lama menegaskan bahwa Iran tak bakal mempunyai senjata nuklir. "Dan dia tak main-main," imbuh jubir itu.
Sederet pejabat AS berulang kali menegaskan pemerintahan Trump mau melenyapkan program nuklir Iran.
"Iran tak boleh dibiarkan memperoleh senjata nuklir. Itulah tujuan operasi ini," kata Wakil Presiden JD Vance di X pada 2 Maret lalu.
(isa/dna)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·