4 Alasan Israel Ogah-ogahan Lihat As Dan Iran Capai Kesepakatan Damai

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku frustrasi menghadapi tingkah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang terus mempersulit upaya perundingan AS-Iran untuk mengakhiri perang.

Sejak gencatan senjata antara Iran-AS berjalan awal April lalu, Israel selalu menunjukkan sikap menolak, termasuk rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) AS-Iran untuk mengakhiri perang pada Jumat (19/6) mendatang di Swiss.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menulis bahwa "kesepakatan Trump tidak mengikat kami" dan bahwa Israel tidak boleh berdiskusi pada "apa pun nan kurang dari pelucutan Hizbullah" alias mundur dari "wilayah apa pun nan telah direbut dan dibersihkan dari prasarana teror oleh pasukan kami," seperti dilaporkan DW.

Berdasarkan rangkuman CNNIndonesia.com, Israel mempunyai tiga argumen kenapa selalu menolak perundingan tenteram antara Iran dan Amerika Serikat ialah sebagai berikut:

1. Iran ancaman nasional

Israel adalah negara nan selalu merasa terancam dengan kekuatan militer Iran. Israel acapkali menyebut Iran mempunyai nuklir, meski Isrel sendiri adalah negara pemilik senjata pemusnah masal itu. Akibat rasa takut itu, Israel menyerang Iran pada Juni 2025 silam dan pada Februari 2026 dibantu Amerika Serikat.

Bahkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Maret lampau menuturkan Israel bakal melanjutkan perangnya dengan Iran "dengan segenap kekuatan kami."

"Kami mempunyai rencana sistematis untuk memberantas rezim Iran dan mencapai banyak tujuan lainnya," kata Netanyahu dalam pidato nan disiarkan televisi, dikutip dari LeMonde.

Sementara itu, New York Times Times menulis tidak ada negara nan mengamati demo anti-pemerintah di Iran dengan minat nan lebih besar daripada Israel, nan memandang Republik Islam sebagai musuh bebuyutan dan ancaman eksistensial.

Iran telah menjadi obsesi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, nan menggambarkan pemerintahan Ayatollah di Teheran sebagai ancaman dunia setara dengan Nazi Jerman.


2. Takut Milisi

Israel juga takut terhadap para milisi nan menjadi sekutu Iran seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman, nan disebut ancaman eksistensial.

Serangan besar-besaran Israel ke Lebanon selatan juga dalam rangka melumpuhkan milisi Hizbullah. Israel memandang Hizbullah sebagai salah satu ancaman militer terbesar bagi keamanan nasional. Milisi di bawah kepemimpinan Naim Qassem ini disegani lantaran punya depot amunisi roket nan relatif besar, dan struktur militer nan tertanam dan menjaring di wilayah selatan.

Menurut intelijen Israel, roket-roket Hizbullah dapat menjangkau nyaris seluruh wilayah negeri tak terkecuali.

Kepala Staf Umum militer Israel, Eyal Zamir, mengatakan kepada Haaretz, Israel tidak bakal mengakhiri perang selama ancaman dari Hizbullah belum dihilangkan. Tujuannya adalah melemahkan alias menghancurkan total keahlian militer golongan nan berkawan dengan Iran itu.

3. Merasa tak terikat kesepakatan AS-Iran

Sejumlah menteri Israel bereaksi keras terhadap kesepakatan tenteram Iran-AS. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir menolak mematuhi kesepakatan dengan argumen Israel tidak terikat perjanjian lantaran tidak terlibat dalam proses perundingan.

Dalam pidatonya, Netanyahu juga menyinggung bahwa pasukan Israel bakal tetap berada di Lebanon sebagaimana mestinya. Ia berujar, pasukan Israel bakal mempertahankan posisi di Lebanon, Jalur Gaza, dan Suriah untuk memastikan tak ada lagi ancaman bagi Israel.

"Israel tidak bakal membiarkan organisasi teroris menancapkan diri di perbatasan kami, menggali terowongan teror ke wilayah kami, alias mempersiapkan pembantaian di dekat penduduk negara kami," ujarnya.

4. Pengalihan rumor korupsi Netanyahu

Banyak analis beranggapan bahwa perang juga memberi untung politik bagi Netanyahu yang disaat bersamaan tetap terjerat skandal korupsi.

Netanyahu tetap menghadapi kasus korupsi nan telah melangkah sejak 2019, mencakup tuduhan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan. Persidangan tersebut terus berjalan hingga 2026 namun dengan banyak penundaan nan salah satunya lantaran argumen perang dan keadaan darurat.

Selama masa perang dan keadaan darurat, dikutip Reuters, beberapa sidang sempat ditunda alias dipersingkat dan tekanan politik terhadap Netanyahu berkurang lantaran perhatian publik beranjak ke rumor keamanan nasional.

Selain itu, support terhadap pemerintah juga meningkat terlepas dari skandal korupsi Netanyahu karena negara menghadapi ancaman eksternal.

Israel memang mempunyai argumen keamanan nan nyata untuk memandang Iran sebagai ancaman strategis, tetapi pada saat nan sama Netanyahu turut memperoleh faedah politik dari situasi perang tersebut. Oleh lantaran itu, dilansir Al Monitor, banyak analis memandang kebijakan terhadap Iran sebagai kombinasi antara pertimbangan keamanan nasional dan kalkulasi politik domestik.

(imf/rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional