Jakarta, CNN Indonesia --
Warga Lebanon Selatan tak percaya bakal gencatan senjata. Mereka menolak tenteram dengan Israel.
Salah seorang warga, Mohammed al-Zein, merasa tak perlu ada nan dirayakan dari gencatan senjata antara Lebanon dan Israel. Toh, dia tetap dilarang kembali ke kampung halamannya di selatan.
"Saya tidak merasakan apa pun saat gencatan senjata diumumkan," ujar Zein kepada AFP. "Selama kami tidak kembali ke kampung halaman, tidak ada nan penting," tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih dari 1 juta orang telah mengungsi sejak Hizbullah nan didukung Iran menyeret Lebanon ke dalam perang pada 2 Maret lalu.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel nan dimulai sejak 17 April bakal diperpanjang selama tiga minggu lagi.
Trump juga optimistis perdamaian antara Lebanon dan Israel bakal tercapai, seiring kedua negara bersiap untuk negosiasi langsung. Namun, Hizbullah menolak negosiasi tersebut.
Warga lainnya juga mengaku tidak percaya pada Israel. Gencatan senjata tak ada artinya bagi mereka.
"Mereka [Israel] pembohong. Mereka membunuh tiga orang kemarin. Kami mau anak-anak kami aman. Jika Israel terus melanggar gencatan senjata, kami bakal tetap di sini," ujar Izdihar Yassin (58).
Israel memang terus melancarkan serangan ke Lebanon meski gencatan senjata diperpanjang. Banyak penduduk nan akhirnya merasa tidak kondusif untuk kembali ke rumah masing-masing meski tengah gencatan senjata.
Ketidakpercayaan itu membikin penduduk Lebanon tak setuju bakal perdamaian dengan Israel. Mohammad Awwad (38) menolak pembicaraan langsung antara Lebanon dan Israel.
"Kami menolak perdamaian [dengan Israel], kami menolak segala corak normalisasi dengan Israel," ujar Awwad.
"Mereka membunuh kami dan mau kami bermusyawarah dengan mereka," pungkasnya.
(asr)
Add
as a preferred source on Google
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·