Usulan Pengusaha Agar Investasi Arab-korea Terealisasi Di Ri

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta -

Himpunan Kawasan Industri (HKI) mengapresiasi langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto selama melakukan kunjungan kenegaraan luar negeri. Keberhasilan diplomasi ini sukses menggalang investasi mulai dari Uni Emirat Arab (UEA), Amerika Serikat (AS), Jepang, hingga Republik Korea.

Akan tetapi, HKI mengingatkan tantangan pada tahap implementasi. Pemerintah dianggap perlu membentuk Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi sebagai tindak lanjut dari beragam komitmen investasi nan sudah disepakati.

"Presiden sudah bekerja luar biasa menjemput bola ke mancanegara, kami sangat apresiasi tinggi. Namun, kami di HKI dan Kadin mencermati bahwa di lapangan tetap ditemukan sumbatan dan hambatan. Birokrasi nan berbelit, inkonsistensi izin pusat-daerah, serta hambatan teknis lainnya seringkali membikin penanammodal ragu untuk melakukan groundbreaking," ujar Ketua Umum HKI, Akhmad Ma'ruf Maulana, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menegaskan, Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi ini kudu berfaedah sebagai unit reaksi sigap nan bisa membedah sumbatan investasi secara end-to-end. Ma'ruf mencontohkan, penanammodal dari Jepang, Korea, dan AS dikenal sangat perincian dan menjunjung tinggi kepastian hukum.

Kemudian jika sumbatan di lapangan tidak segera dibersihkan, Indonesia berisiko kehilangan momentum emas ini. Meski begitu, Ma'ruf optimis pemerintah tidak bakal kehilangan momentum jika Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi terbentuk.

"Kita tidak mau komitmen besar ini hanya menjadi seremoni penandatanganan saja. Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi ini kudu memastikan setiap dolar nan dijanjikan betul-betul masuk ke area industri dan memberikan akibat ekonomi nyata," tambahnya.

Ma'ruf menambahkan, Indonesia tetap berkesempatan besar menjadi pusat produksi rantai pasok global. Namun dia menekankan, tidak boleh ada tumbukan kepentingan untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

"Sudah saatnya kita bekerja keras menarik investasi sebesar-besarnya. Kami berambisi kita dapat mengesampingkan sekat-sekat dan kepentingan politik agar Indonesia menjadi destinasi investasi dunia nan kondusif dan nyaman," pungkas Ma'ruf.

(acd/acd)

Sumber finance