Trump Takuti Italia Soal Nuklir Iran, Padahal Baru As Pakai Bom Atom

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mulai merenggang.

Hal itu dipicu komentar Trump terhadap sosok Paus Leo XIV nan dinilai merendahkan seperti menyatakan "Lemah".

Sementara Meloni memihak sosok Paus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Paus adalah kepala Gereja Katolik, dan adalah betul dan wajar baginya untuk menyerukan perdamaian dan mengutuk semua corak perang," kata Meloni dalam sebuah pernyataan, dikutip AFP.

Tak berakhir di sana, Trump juga terus mengomentari Meloni nan tak mau bantu buka Selat Hormuz hingga menyinggung senjata nuklir Iran.

"Karena dia tidak mau membantu kami dengan NATO, dia tidak mau membantu kami menyingkirkan senjata nuklir. Ini sangat berbeda dari nan saya pikirkan," katanya kepada media Italia Corriere della Sera, Rabu (15/4).

Trump kemudian menyinggung senjata nuklir Iran.

"Dia tidak peduli jika Iran mempunyai senjata nuklir dan bakal meledakkan Italia dalam dua menit jika mempunyai kesempatan," kata Trump.

Namun dalam sejarah perlombaan senjata nuklir, saat ini ini satu-satunya negara nan pernah menggunakan senjata pemusnah masal itu hanya Amerika Serikat.

Dikutip dari laman History, disebutkan diplomasi atom merujuk pada upaya untuk menggunakan ancaman perang nuklir untuk mencapai tujuan diplomatik. Setelah uji coba peledak atom pertama nan sukses pada tahun 1945, para pejabat AS segera mempertimbangkan potensi faedah non-militer nan dapat diperoleh dari monopoli nuklir Amerika.

Pada tahun-tahun berikutnya, terdapat beberapa kesempatan di mana pejabat pemerintah menggunakan alias mempertimbangkan diplomasi atom.

"Pada pukul 8.15 pagi tanggal 6 Agustus 1945, kota Hiroshima di Jepang hancur akibat peledak atom pertama nan digunakan sebagai senjata perang. Bom tersebut, nan dijuluki 'Little Boy', dijatuhkan dari pesawat pembom USAAF B29 'Enola Gay' dan meledak sekitar 1.800 kaki di atas kota. Dengan daya ledak setara sekitar 12,5 kiloton TNT, peledak tersebut menghanguskan 5 mil persegi pusat kota menjadi abu dan menyebabkan kematian sekitar 120.000 orang dalam empat hari pertama setelah ledakan. Banyak nan langsung menguap akibat ledakan, sementara nan lain meninggal kemudian akibat luka bakar dan radiasi," demikian laman tersebut memberi penjelasan.

Bahkan kebijakan untuk membikin senjata nuklir menjadi keputusan berbareng kala itu. Saat memimpin pengembangan senjata nuklir AS, Presiden Franklin Roosevelt membikin keputusan untuk tidak memberi tahu Uni Soviet tentang perkembangan teknologi tersebut.

Setelah kematian Roosevelt, Presiden Harry Truman kudu memutuskan apakah bakal melanjutkan kebijakan merahasiakan info nuklir ini.

Pada akhirnya, Truman menyebut keberadaan peledak nan sangat merusak kepada Perdana Menteri Soviet Joseph Stalin pada pertemuan Sekutu di Potsdam, tetapi dia tidak memberikan rincian spesifik tentang senjata alias penggunaannya.

Pada pertengahan tahun 1945, jelas bahwa Uni Soviet bakal memasuki perang di Pasifik dan dengan demikian berada dalam posisi untuk memengaruhi keseimbangan kekuatan pascaperang di area tersebut.

Para pejabat AS menyadari bahwa mini kemungkinan untuk mencegah perihal ini, meskipun mereka lebih memilih pendudukan Jepang nan dipimpin AS daripada pendudukan berbareng seperti nan telah diatur untuk Jerman.

Beberapa kreator kebijakan AS berambisi bahwa monopoli AS atas teknologi nuklir dan demonstrasi kekuatan penghancurnya di Jepang dapat memengaruhi Soviet untuk membikin konsesi, baik di Asia maupun di Eropa.

Truman tidak menakut-nakuti Stalin dengan peledak tersebut, melainkan menyadari bahwa keberadaannya saja bakal membatasi pilihan Soviet dan dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan Soviet.

Bahkan setelah itu, dalam perang Vietnam, AS juga kembali mau melakukan perihal nan sama. Dalam dua dasawarsa pertama Perang Dingin, terdapat sejumlah kesempatan di mana diplomasi atom digunakan oleh kedua pihak nan bertikai.

Selama Blokade Berlin tahun 1948-49, Presiden Truman memindahkan beberapa pesawat pembom B-29 nan bisa mengirimkan peledak nuklir ke wilayah tersebut untuk memberi sinyal kepada Uni Soviet bahwa AS bisa melakukan serangan nuklir dan bersedia melaksanakannya jika diperlukan."

Selama Perang Korea, Presiden Truman sekali lagi mengerahkan B-29 untuk memberi sinyal tekad AS. Pada tahun 1953, Presiden Dwight D Eisenhower mempertimbangkan, tetapi akhirnya menolak pendapat menggunakan paksaan nuklir untuk memajukan negosiasi perjanjian gencatan senjata nan mengakhiri perang di Korea. Sebagai perubahan haluan, pada tahun 1962, pengerahan rudal nuklir Soviet ke Kuba untuk mencoba memaksa konsesi AS kepada Eropa menjadi contoh lain dari diplomasi atom.

Terlepas dari banyaknya ancaman nan dilontarkan selama Perang Dingin, senjata atom tidak digunakan dalam bentrok apa pun setelah Perang Dunia Kedua. Meskipun keberadaan senjata nuklir dapat terus berfaedah sebagai pencegah, kegunaan diplomatiknya mempunyai batasnya.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional