Trump Ngomel Usai Dikritik Soal Mou As-iran: Mereka Bodoh

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Donald Trump mengecam kritikan nan dilontarkan sejumlah pihak mengenai nota kesepahaman nan ditandatangani Amerika Serikat dan Iran.

Trump menyebut mereka nan menuduhnya menawarkan konsesi ke Iran untuk mengakhiri perang sebagai "orang bodoh".

"Orang-orang tolol ini, nan menganggap saya belum cukup keras terhadap Iran, ketika pasar saham baru saja mencapai rekor tertinggi dan nilai minyak 'jatuh', adalah mereka nan cemburu, orang jahat, alias bodoh," tulis Trump di media sosial, beberapa jam setelah menandatangani perjanjian, seperti dilaporkan AFP. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terpisah telah menandatangani nota kesepahaman berisi 14 poin, demi mengakhiri bentrok Timur Tengah nan dimulai sejak Februari lalu.

Saat ini Iran dan AS punya waktu selama 60 hari ke depan untuk memulai perundingan, untuk secara resmi menghentikan perang.

Berdasarkan kesepakatan itu, AS berkomitmen untuk segera menghapuskan hukuman minyak nan melumpuhkan perekonomian Iran.

Selain itu setelah kesepakatan akhir mengenai program nuklir Iran tercapai, AS juga bakal memfasilitasi pencairan "kompensasi" untuk rekonstruksi Iran senilai US$300 miliar alias sekitar Rp5.342 triliun, nan didukung oleh negara-negara di kawasan.

Sebaliknya, para pejabat AS menyebut Iran bakal mengurangi persediaan uranium nan diperkaya, kemungkinan dengan langkah melakukan "down-blending" di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa Bangsa.

Beberapa jam usai penandatanganan kesepakatan, sejumlah media AS meluncurkan kritikan atas MoU nan diteken Trump dengan Iran.

"Gedung Putih menyetujui perpanjangan gencatan senjata ini nan tidak memenuhi tujuan sebelum perang, namun memberikan konsesi finansial nan sangat besar kepada Teheran," demikian laporan jaringan TV AS, MS NOW.

"Sekarang, pemerintah berupaya mati-matian untuk berargumentasi sebaliknya. Sederhananya, Trump dipermainkan oleh Iran, dan tiak ada nan mau menerima tawarannya," lanjut laporan itu.

Fox News sebagai saluran buletin nan biasanya "ramah" dengan pemerintah Trump, mengutip para kritikus nan mengatakan perjanjian itu memberikan Iran untung finansial nan besar.

Menurut para pengamat, seperti dikutip Fox News, Iran justru mendapat untung tanpa perlu betul-betul menghentikan program nuklirnya.

Media Wall Street Journal (WSJ) menyebut perjanjian itu secara luas dipandang sebagai pertaruhan kebijakan luar negeri terbesar pada masa kedudukan Trump nan kedua.

"Trump bakal menghadapi perlawanan dari golongan garis keras kebijakan Iran, nan mendatakan bahwa presiden telah menyerah jauh lebih banyak daripada nan dia dapatkan," kutip WSJ.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Sumber cnn-internasional