Trump Koar-koar Kepemimpinan Iran Mau Kolaps, Ini Kata Teheran

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Iran buka bunyi mengenai siapa nan mengontrol keputusan tertinggi di tengah peperangan dengan Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump mengeklaim kepemimpinan Teheran di periode kolaps.

Melalui instansi buletin Iran Tasnim, Wakil ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran mengatakan perundingan nan sedang berjalan meski mandek dilakukan di bawah pengarahan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan Tansim juga menambahkan bahwa selain Mojtaba Khamenei, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Ghalibaf secara langsung memimpin jalannya negosiasi.

Ghalibaf telah muncul sebagai salah satu tokoh utama dalam pengambilan keputusan Iran di masa perang dan sebelumnya juga memainkan peran sentral dalam beragam upaya diplomatik.

Ghalibaf menjadi sorotan setelah sosoknya disebut menjadi pilihan Presiden Donald Trump untuk pemimpin masa depan Iran.

Meski begitu, sejauh ini Ghalibaf justru vokal melayangkan ancaman dan ultimatum terhadap AS jika tetap mencoba menggempur Iran.

Pernyataan Iran ini muncul ketika publik internasional mempertanyakan keberadaan Mojtaba Khamenei nan belum juga muncul langsung di depan publik setelah diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran menggantikan sang ayah, Ali Khamenei, nan tewas dalam gempuran AS-Israel pada 28 Februari lalu.

Sejumlah laporan intelijen apalagi mengungkap bahwa Mojtaba Khamenei dalam kondisi kritis lantaran luka nan dideritanya imbas terkena serangan AS-Israel berbareng ayah dan keluargnya di awal perang.

Dalam unggahan di Truth Social pada Selasa (28/4), Trump apalagi mengeklaim Iran telah memberi tahu dirinya bahwa negara itu berada dalam "kondisi kolaps".

Trump apalagi menuturkan Iran mau Amerika Serikat membuka kembali Selat Hormuz "secepat mungkin" sembari mereka berupaya "menyelesaikan persoalan kepemimpinan."

"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam 'kondisi kolaps'. Mereka mau kami 'membuka Selat Hormuz' secepat mungkin, sementara mereka berupaya menyelesaikan persoalan kepemimpinan mereka (yang saya percaya bakal bisa mereka atasi!). Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!" ucap Trump dalam unggahannya di Truth Social.

Namun, dia tidak menjelaskan gimana pesan tersebut disampaikan maupun siapa pihak nan menyampaikannya.

Pernyataan Trump pada Selasa itu muncul di tengah laporan bahwa dia tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk melanjutkan perundingan tenteram putaran kedua di Islamabad, Pakistan, nan tetap saja mandek.

Trump disebut tak senang lantaran dalam proposal itu Iran mau konsentrasi bermusyawarah mengenai Selat Hormuz terlebih dulu dan mengesampingkan pembicaraan soal nuklir, salah satu tujuan utama AS memerangi Teheran sejak akhir Februari.

Hal ini juga dia ungkapkan ketika AS sendiri tengah dikejar tenggat waktu soal perang di Iran.

Berdasarkan 1973 War Powers Act (Undang-Undang Perang AS) nan memberikan kewenangan terbatas bagi Presiden untuk melibatkan negara dalam perang, Trump mempunyai tenggat waktu sampai 1 Mei untuk meminta persetujuan Kongres guna melanjutkan operasi militer ke Iran.

War Powers Act menyatakan seorang presiden AS kudu membatasi pengerahan pasukan dalam bentrok nan sedang berjalan setelah 60 hari, selain jika dia diberi otorisasi unik untuk melanjutkan perang oleh Kongres.

Sederhananya, UU Kekuatan Perang membatasi kewenangan presiden AS dalam melibatkan negara dalam bentrok bersenjata di luar negeri.

(rds/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional