Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menerima Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi di Gedung Putih pada pertengahan Juli mendatang. Kabar tersebut disampaikan instansi PM Irak dan Kedutaan Besar AS di Baghdad, Selasa (16/6).
"Utusan Khusus Presiden Barrack menyampaikan bahwa Presiden Trump menantikan untuk menyambut Perdana Menteri Al-Zaidi di Gedung Putih pada pertengahan Juli guna membahas masa depan hubungan krusial ini," demikian pernyataan berbareng nan dirilis kedutaan AS di Baghdad.
Pernyataan itu merujuk pada Tom Barrack, utusan unik Trump untuk Irak, nan tengah melakukan kunjungan ke Baghdad. Dalam lawatannya, Barrack berjumpa dengan Al-Zaidi untuk membahas rumor perlucutan senjata dan pembubaran golongan bersenjata di Irak nan beraksi di luar otoritas negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip AFP, Pertemuan tingkat tinggi ini berjalan di tengah meningkatnya tekanan Washington terhadap Baghdad agar melucuti kelompok-kelompok bersenjata nan didukung Iran.
Pada awal Mei lalu, AS menyatakan bakal melanjutkan transfer finansial dan support keamanan kepada Irak jika pemerintah Irak mengambil 'langkah konkret' terhadap golongan tersebut. Kelompok bersenjata di Irak sebelumnya melancarkan serangan terhadap fasilitas-fasilitas AS setelah perang di Timur Tengah pecah pada akhir Februari.
Serangan itu mereda setelah gencatan senjata mulai bertindak pada 8 April. Amerika Serikat juga sempat melancarkan serangan terhadap beberapa faksi bersenjata di Irak, nan kemudian memperumit hubungan Washington dan Baghdad.
Ali al-Zaidi, nan mulai menjabat sebagai perdana menteri pada pertengahan Mei, berjanji memastikan negara memegang monopoli atas senjata. Ia menegaskan pemerintah Irak tidak bakal membiarkan golongan bersenjata di luar struktur negara terus beraksi tanpa kendali.
Selain rumor keamanan, Al-Zaidi juga menegaskan komitmen Irak untuk memperdalam hubungan perdagangan dan investasi dengan Amerika Serikat.
Pengumuman kunjungan ke Gedung Putih datang sehari setelah Iran dan Amerika Serikat mengumumkan kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Meski demikian, Irak tetap berada dalam posisi nan rumit.
Negara itu selama bertahun-tahun menjadi arena persaingan pengaruh antara Washington dan Teheran. Pemerintahan Irak silih berganti kudu menjaga keseimbangan diplomatik antara kedua kekuatan tersebut demi menjaga stabilitas dalam negeri dan hubungan luar negeri.
Pertemuan Trump dan Al-Zaidi di Washington diperkirakan bakal menjadi ujian awal bagi arah hubungan baru AS-Irak di bawah kepemimpinan perdana menteri nan baru.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·