Trump Berang Media As Anggap Iran Menang Perang

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump geram dengan media AS New York Times nan merilis konten bahwa Iran menang dalam peperangan ini.

Dalam unggahan di media sosial buatannya Truth Social pada Selasa (14/4), Trump menegaskan Iran sudah hancur lebur dan menyebut pemberitaan New York Times palsu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bagi mereka nan tetap membaca The Failing New York Times dan, meskipun Iran sudah betul-betul DIHANCURKAN, secara militer maupun nan lain, Anda bakal mengira Iran sebenarnya menang atau, setidaknya, bekerja cukup baik - Tetapi itu tidak benar, dan The New York Times tahu bahwa itu BERITA PALSU!" tulis Trump.

Selama menjadi presiden di periode sekarang alias sebelumnya, Trump memang kerap memaki-maki media nan mengkritik tindakan alias kebijakannya. Dia apalagi tak segan menggugat media tersebut.

Di unggahan itu, Trump menuntut New York Times meminta maaf atas tindakan mereka.

"Kapan media korup ini meminta maaf atas ketidakejujuran dan tindakan mengerikan mereka terhadap saya, para pendukung saya, dan Negara kita sendiri! Apakah mereka tidak punya rasa malu?" ujar dia.

Media nan berbasis di Amerika Serikat itu sebelumnya merilis laporan dan konten nan menyebut Iran menang dalam perang melawan Negeri Paman Sam dan sekutunya Israel.

NYT merilis tulisan berjudul Meski Babak Belur, Pemimpin Iran Percaya Diri dalam Perang-Punya Kartu Baru (Iran's Battered Leaders Emerge From War Confident - and With New Cards) pada 9 April.

Di ringkasan berita, mereka menulis bagi pemerintahan seperti Iran bisa memperkuat dari operasi AS dan Israel adalah kemenangan.

"Sekadar selamat dari serangan AS-Israel sudah berfaedah kemenangan. Namun, bibit krisis mereka berikutnya mungkin sudah ditanam," tulis New York Times.

NYT juga merilis video pada 3 April dengan titel What If Iran Wins This War. Mereka membahas kemungkinan AS kalah dalam perang nan mereka mulai.

Video tersebut bagian dari program The Ezra Klein Show nan menghadirkan host Ezra Klein dan Direktur Kebijakan Luar Negeri Brooking Institution Suzanne Maloney.

"Anda pernah membayangkan sebulan dari sekarang perang bisa mereda lantaran Amerika tak tahan dengan kekacauan nan ditimbulkan terhadap energi, pupuk, helium global, pasokan, dan lain-lain. Pemerintahan Iran bersikeras dengan tindakannya mengendalikan Selat Hormuz nan kemungkinan mengubah ongkos kapal," kata Klein.

"Dan itu seperti, bagi saya, perang nan bakal kita kalahkan, apakah salah?" tanya dia.

Suzanne sependapat dengan Klein. Dia bilang, "Saya kira itu benar."

"Saya tak memandang kemenangan dalam terminologi nan sesungguhnya di akhir krisis ini," imbu Suzanne.

NYT juga merilis kolom opini nan berjudul Iran Duga Bisa Menang Perang Panjang (Iran Thinks It Can Win a Long War) pada 28 Maret, sebulan setelah AS-Israel menggempur negara tersebut.

Sejumlah master juga pandangan serupa dengan New York Times. Direktur Program Peperangan, Ancaman Tak Teratur dan Terorisme Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) Daniel Byman.

Iran sukses membawa kerugian bagi AS. Strategi Iran, kata dia adalah bertahan, menimbulkan kerugian, dan menggeser pusat gravitasi bentrok ke luar.

"Dan strategi ini mencapai keberhasilan nan berarti," kata dia dalam tulisan analisisnya nan dirilis di situs CSIS, Rabu (8/4).

"Dengan mendestabilisasi pasar daya global, memperketat aliansi AS, dan mengungkap keterbatasan kekuatan koersif Amerika, Teheran telah memastikan bahwa apalagi kampanye nan sukses secara taktis pun membawa kerugian strategis nan signifikan bagi Washington," imbuh Byman.

Amerika Serikat dan sekutunya Israel menggempur habis-habisan Iran pada 28 Februai. Operasi ini membikin Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan ribuan penduduk sipil terutama anak serta wanita tewas.

Iran langsung meluncurkan serangan jawaban ke Israel dan aset-aset AS di negara Teluk. Mereka juga menutup jalur pedagangan global, Selat Horzmu.

Setelah lebih dari sebulan perang, Iran dan AS sepakat menggelar perundingan tenteram tapi pembicaraan berhujung buntu. Trump kemudian mengumumkan memblokade Selat Hormus bagi kapal Iran alias kapal nan berafiliasi dengan Iran.

(isa/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional