Studi Ungkap Hubungan Kuat Antara Bakteri Mulut Dan Kanker Lambung

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta -

Bakteri dalam mulut dikaitkan dengan kesehatan organ dalam nan buruk. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah studi nan menghubungkan kuman tersebut dengan penyakit kanker.

Dikutip dari laman Fox News, sebuah penelitian terbaru mengungkap adanya hubungan kuat antara kuman mulut dan kanker lambung. Studi dalam jurnal Cell Reports Medicine ini meneliti mikrobioma usus pada feses dan mikrobioma mulut dari air liur dan lidah.

Para intelektual dari Fakultas Kedokteran Universitas Shanghai Jiao Tong dan BGI Genomics menganalisis 404 sampel dari pasien Tiongkok untuk membandingkan kanker lambung dan gastritis kronis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka menemukan adanya perbedaan mikrobioma usus pada pengidap kanker lambung. Ada sebanyak 28 jenis kuman usus nan berbeda.

Sebagian besar adalah kuman nan biasanya berasal dari mulut, termasuk Streptococcus, nan menyebabkan radang tenggorokan, lactobascillus, dan kuman masam laktat lainnya.

Sebanyak 20 jenis oral-usus terdapat dalam air liur maupun tinja dan lebih umum ditemukan di usus pasien kanker lambung. Penelitian ini menunjukkan adanya penularan kuman dari mulut ke usus, setelah ditemukan bahwa kuman oral sangat mirip dengan kuman usus pada orang nan sama.

Berdasarkan studi ini, para peneliti menyarankan, sampel air liur dan tinja bisa membantu menunjukkan pola nan mengenai dengan kanker lambung, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum pengetesan siap untuk penggunaan klinis.

Analisis ini memang tidak membuktikan kuman mulut bisa menyebabkan kanker, tetapi menunjukkan adanya hubungan kuat antara keduanya.

"Studi ini menunjukkan gimana mikrobioma di satu area bisa beranjak dan memengaruhi keahlian kanker untuk bertumbuh di bagian tubuh lain," kata Direktur Onkologi Ginekologi, Dr Brian Slomovitz. Karenanya, sangat krusial untuk berupaya menciptakan mikrobioma nan sehat demi mengurangi akibat peradangan serta kanker.

Menurutnya, pemicu kanker lambung biasanya berkarakter inflamasi, seperti jangkitan H.pylori. Peradangan ini menyebabkan kerusakan sel mukosa tempat kuman penghasil masam laktat bisa berkembang biak. Hal ini membantu menjelaskan kenapa kanker tetap berkembang apalagi setelah pengobatan jangkitan H.pylori.

Slomovitz mengatakan bahwa temuan baru ini diterapkan untuk menggunakan air liur sebagai perangkat penemuan awal kanker, nan dapat membantu mengidentifikasi penyakit tersebut apalagi pada tahap prakanker.

"Mungkin kita bakal mengetahui, dengan mengubah mikrobioma, kita dapat membantu mengobati kanker dengan lebih baik (dalam kombinasi dengan imunoterapi alias kemoterapi) alias apalagi mencegah kanker," katanya.

"Hasil ini bakal menjadi landasan untuk penelitian di masa mendatang. Namun, kami belum siap untuk menerapkannya dalam praktik klinis," tambahnya.


(naf/naf)

Sumber detik-health