Sering Dikira Maag Biasa, Gejala Ini Bisa Jadi Pertanda Kanker Usus

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jakarta -

Banyak orang kerap menyepelekan indikasi nyeri ulu hati, perut kembung, alias begah setelah makan. Modalnya cukup minum obat maag bebas di apotek, lampau dianggap sembuh.

Padahal, kebiasaan mendiagnosis diri sendiri (self-diagnosis) ini sangat berbahaya. Para master kesehatan memperingatkan indikasi nan mirip gastritis namalain maag biasa ini bisa jadi merupakan tanda penyakit nan jauh lebih serius.

Mulai dari batu empedu, pankreatitis, hingga kanker kolorektal alias kanker usus besar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibat sering disepelekan, banyak pasien nan baru datang ke rumah sakit ketika penyakitnya sudah memasuki stadium lanjut.

"Pada sebagian besar penyakit serius, masalah utamanya bukanlah indikasi itu sendiri tetapi gimana orang menafsirkannya," tegas seorang ahli, dikutip dari Malay Mail.

Sering Menyerupai Gejala Maag

Dr Nurhashim Haron, seorang konsultan bedah umum dan kolorektal di Rumah Sakit Spesialis Tawakkal Kuala Lumpur, Malaysia, mengungkapkan kebenaran mengejutkan. Sekitar 40 hingga 50 persen pasien kanker kolorektal nan dirujuk kepadanya awalnya mengira mereka hanya mengida maag alias gastritis.

"Pasien baru datang untuk pemeriksaan lebih lanjut setelah gejalanya menetap. Akibatnya, ketika akhirnya didiagnosis, lebih dari 70 persen sudah berada pada stadium lanjut, stadium tiga alias empat," katanya.

Berdasarkan info Registri Kanker Nasional Malaysia (2017-2021), terjadi tren peningkatan kasus nan signifikan pada golongan usia nan lebih muda.

"Sebelumnya, sebagian besar pasien berumur antara 55 dan 65 tahun. Sekarang, kami memandang kasus pada usia 40-an, apalagi lebih muda," jelas Dr Nurhashim.

Ia menceritakan salah satu kasus laki-laki usia 40-an nan awalnya mengira hanya mengalami perut kembung biasa. Pemeriksaan endoskopi awal memang hanya menunjukkan peradangan lambung.

Namun saat dilakukan kolonoskopi, barulah ditemukan tumor di usus besar nan rupanya sudah masuk stadium lanjut dan menyebar, hingga pasien kudu menjalani operasi pengangkatan sebagian usus dan lambung serta kemoterapi.

Waspadai 'Tanda Bahaya' pada Pola BAB

Dr Nurhashim mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan kebiasaan buang air besar (BAB). Beberapa indikasi krusial nan wajib diwaspadai meliputi:

  • Perubahan gelombang BAB.
  • Bentuk feses menjadi lebih tipis.
  • Perubahan konsistensi feses.
  • Adanya darah alias lendir pada feses.
  • Diare berkepanjangan alias sembelit kronis.
  • Perasaan BAB tidak tuntas (tenesmus).

"Namun, banyak pasien tetap menganggap gejala-gejala ini disebabkan oleh gastritis, stres, alias diet dan memilih untuk menunggu sampai kondisinya memburuk," sesalnya.

Faktor rasa malu dan takut menjalani prosedur seperti kolonoskopi juga memperlambat pasien mencari pertolongan medis.

Padahal, jika terdeteksi sejak dini, penanganan kanker kolorektal jauh lebih mudah dan murah. Bahkan pada beberapa kasus awal, pasien hanya perlu menjalani operasi tanpa kudu melewati proses kemoterapi nan kompleks.

Konsultan bedah umum dan hepatobilier di Bukit Tinggi Medical Centre, Klang, Dr Thamarai Velan, menyebut penyakit batu empedu juga kerap memicu indikasi nan mirip dengan gastritis.

"Banyak pasien datang mengeluhkan rasa panas di dada, gangguan pencernaan, dan ketidaknyamanan perut, nan mereka anggap sebagai gastritis. Namun, menurut pengalaman saya, lebih dari separuh kasus tersebut disebabkan oleh kondisi lain," terangnya.

Bedanya, nyeri akibat batu empedu biasanya terasa lebih tajam, terlokalisasi di sisi kanan perut, menjalar ke punggung, serta disertai mual, muntah, hingga mata alias kulit menguning. Jika dibiarkan tanpa penanganan, batu empedu bisa memicu jangkitan parah (sepsis) hingga meningkatkan akibat kanker kandung empedu.

(sao/naf)

Sumber detik-health