Sering Dikaitkan Dengan Gula, Apa Sih 'indeks Glikemik' Itu?

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Jakarta -

Istilah indeks glikemik kerap disebut saat bicara soal pola makan sehat. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi gula, banyak orang mulai mencari tahu makanan apa saja nan mempunyai indeks glikemik rendah hingga tinggi.

Health communicator Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, M.Gizi., AIFO-K menjelaskan, indeks glikemik berangkaian dengan seberapa sigap suatu makanan meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi.

"Jadi indeks glikemik ini sebenarnya apa sih? Jadi indeks glikemik itu gimana pada saat kita makan makanan, kemudian masuk ke dalam tubuh kita, dicerna, diabsorpsi, diserap, sampai akhirnya dia bakal meningkatkan kadar gula darah," jelas dr Laurencia dalam aktivitas detikcom Leaders Forum berjudul 'Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gendut', Jumat (5/6/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, indeks glikemik dibagi menjadi tiga kategori, ialah rendah, sedang, dan tinggi. Klasifikasi tersebut ditentukan berasas nilai indeks glikemiknya.

"Kalau indeks glikemik itu rendah, berfaedah dia di bawah 55, kemudian jika sedang itu sekitar 55-69, jika di atas 70 itu kita sudah bilangnya tinggi," ujarnya.

Mengapa Indeks Glikemik Penting?

Menurut dr Laurencia, makanan dengan indeks glikemik rendah hingga sedang lebih disarankan untuk dikonsumsi dibandingkan makanan dengan indeks glikemik tinggi.

"Kalau mau sehat, memang kita lebih baik pilih nan rendah sampai sedang. Kenapa? Karena jika nan tinggi, berfaedah pada saat makan makanan itu kadar gula darah kita langsung meningkat tajam," katanya.

Ia menambahkan, lonjakan gula darah nan terjadi secara sigap merupakan kondisi nan tidak direkomendasikan. Karena itu, masyarakat dianjurkan lebih memperhatikan jenis makanan nan dikonsumsi sehari-hari.

Bagaimana Mengenali Makanan Berindeks Glikemik Rendah?

Menurut dr Laurencia, tidak semua produk makanan bungkusan mencantumkan nilai indeks glikemik pada labelnya. Namun, ada beberapa karakter nan dapat membantu mengenali makanan dengan indeks glikemik lebih rendah.

"Kalau dari makanan whole food mungkin lebih mudah, makanan nan rasanya tidak terlalu manis. Kemudian pada saat kita makan, kita memerlukan untuk mengunyahnya itu kudu lebih lama," jelasnya.

Sementara untuk makanan kemasan, konsumen dapat memperhatikan kandungan gula pada label info nilai gizi, terutama sukrosa.

Selain indeks glikemik, dr Laurencia mengingatkan, jumlah makanan nan dikonsumsi juga perlu diperhatikan. Sebab, makanan dengan indeks glikemik rendah sekalipun tetap dapat meningkatkan gula darah jika dikonsumsi berlebihan.

"Nah, selain indeks glikemik, itu tidak kalah krusial adalah glycemic load. Jadi jika misalnya kita sudah makan nih, oh makanan kita ini sudah bagus, indeks glikemiknya sudah rendah. Tapi kita makan dalam jumlah nan berlebihan, ialah disebut sebagai glycemic load. Itu juga bakal bisa meningkatkan kadar gula darah," tuturnya.

Karena itu, menurutnya, menjaga pola makan tidak cukup hanya dengan memilih makanan berindeks glikemik rendah. Porsi makan juga perlu diperhatikan agar asupan gula tetap terkendali.

"Jadi memang glycemic load-nya dijaga, indeks glikemiknya juga dijaga," pungkasnya.

Simak Video "Video: Menggendut Cuma Gara-gara Kecap Sesendok?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)

Sumber detik-health