PROKALTENG.CO-Israel membantah tudingan menjadi dalang penyerangan di pos The UN Interim Force in Lebanon (UNIFIL), Lebanon Selatan nan menewaskan tiga peacekeeper dan melukai sejumlah pasukan lainnya.
Hal ini disampaikan oleh Perwakilan Permanen Israel untuk PBB Danny Danon dalam Sidang Darurat Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai situasi Lebanon, pada Selasa (31/3).
Sidang darurat ini diselenggarakan atas desakan Indonesia bersama Prancis, sebagai bentuk komitmen panjang Indonesia terhadap operasi perdamaian PBB.
Meski menyampaikan ucapan belasungkawa, sejak awal Danon sudah dalam posisi melindungi sembari menyalahkan Hizbullah.
Dia menyatakan golongan Hizbullah nan bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan UNIFIL, nan telah menewaskan tiga prajurit TNI.
Dia menyebut, pasukan UNIFIL terkena perangkat peledak Hizbullah dalam sebuah kejadian di dekat Bani Hayyan.
Selain itu, penembakan terhadap posisi UNIFIL di dekat Adchit al-Qusayr pada tanggal 29 Maret, nan menyebabkan gugurnya penjaga perdamaian UNIFIL secara tragis, juga dituding dilakukan oleh golongan tersebut.
“IDF (Pasukan Pertahanan Israel) tidak melepaskan tembakan di sekitar letak tersebut. Situasinya sangat kompleks. Keadaan berubah dengan sangat sigap dan berbahaya,” ujarnya disimak dari UN web TV.
Menurut dia, pihaknya tidak menginginkan eskalasi tersebut. Justru Hizbullah nan memulai dengan menembaki pasukan Israel dengan argumen membalas kematian pemimpin tertinggi Iran.
“Hizbullah telah melakukan serangan terkoordinasi terhadap penduduk sipil Israel atas pengarahan dari Teheran. Lebih dari 5.000 roket, rudal, dan drone telah ditembakkan kepada rakyat kami. Banyak dari serangan ini diluncurkan dari wilayah selatan Sungai Litani,“ jelasnya.
Menurut dia, Hizbullah tertanam sangat dalam di seluruh Lebanon selatan. Mereka beraksi dari desa-desa, meluncurkan serangan dari area sipil, dan menempatkan diri mereka dekat dengan pasukan UNIFIL.
Dalam momen itu, dia apalagi menunjukkan peta letak Hizbullah nan beraksi tepat di samping posisi UNIFIL.
Termasuk empat senjata peluncur Hizbullah nan diarahkan ke Israel pada 9, 10, dan 11 Maret, di dekat Haniyeh, tepat di samping posisi UNIFIL 510.
“Hizbullah sengaja beraksi di dekat posisi PBB dan menempatkan mereka langsung di garis api. Kami menunjukkan UNIFIL agar mereka sadar bakal akibat ini dan mengambil tindakan pencegahan,” sambungnya.
Indonesia desak Penyelidikan Transparan
Pemerintah Indonesia melalui Wakil Tetap RI untuk PBB, Duta Besar Umar Hadi merespon pernyataan tersebut dengan tegas.
Kepada majelis, dia menekankan, bahwa Indonesia tidak mau mendengar alasan-alasan dari Israel.
Namun, mendesak segera dilakukannya penyelidikan nan transparan atas serangan pada pasukan penjaga perdamaian di Lebanon.
“Kami menuntut penyelidikan oleh PBB, bukan argumen dari Israel. Kami menuntut agar Dewan Keamanan terus mengawal perkembangan penyelidikan dan segera menindaklanjuti hasilnya,” tegasnya.
Dia menegaskan bahwa para pelaku kudu dimintai pertanggungjawaban secara hukum. Kekebalan norma tidak boleh menjadi standar, dan serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak boleh diulangi alias ditoleransi.
Di awal pidatonya nan berdurasi kurang lebih 9 menit, Umar secara lantang membacakan nama-nama korban jiwa nan merupakan pasukan Indonesia dari unsur TNI.
Zulmi Aditya Iskandar, Mayor Infanteri, 33 tahun. Muhammad Nur Ichwan, Sersan Satu, 25 tahun. Juga Fahrizal Rhomadhon, Kopral, 27 tahun.
Saat menyebut usia mereka, Umar selalu menggunakan kata “young” alih-alih “old” seperti biasanya.
Hal ini sebagai penekanan, bahwa para prajurit ini tetap sangat muda dan harusnya dapat mempunyai masa depan panjang jika tidak menjadi korban kejahatan perang.
“Izinkan saya memulai dengan menghormati kenangan para pejuang perdamaian nan gugur dengan menyebut nama-nama mereka di Ruang Sidang nan terhormat ini,” ujarnya.
Dia juga sempat menyebut satu persatu nama prajurit Indonesia nan terluka. Mulai dari Kapten Sulthan Wirdean Maulana, Kopral Rico Pramudia, Kopral Arif Kurniawan, Kopral Bayu Prakoso, dan Prajurit Kadet Deni Rianto.
Indonesia Kembali Kecam Serangan pada UNIFIL
Selanjutnya, Umar pun menumpahkan semua duka, kemarahan, dan frustrasi mendalam dari Pemerintah dan rakyat Indonesia atas serangan terhadap pasukan pemelihara perdamaian (peacekeepers) Indonesia pada sidang tersebut.
Yang diyakininya, rasa duka, amarah, dan frustrasi ini juga dirasakan secara luas oleh masyarakat dunia. Sebab, ini bukan hanya kehilangan besar bagi Indonesia tapi juga semua pihak, termasuk PBB.
Ia pun kembali menegaskan sikap Indonesia nan mengecam keras serangan biadab terhadap penjaga perdamaian Indonesia nan bekerja di UNIFIL, pada 29 dan 30 Maret 2026 lalu.
“Kami tidak dapat menerima pembunuhan terhadap para penjaga perdamaian ini. Para penjaga perdamaian ini gugur dan terluka saat menjalankan mandat nan dipercayakan kepada mereka oleh Dewan ini sendiri,” paparnya.
Secara tegas, dia pun mendesak semua pihak mengenai untuk memastikan pemulangan jenazah ketiga personel nan wafat secara cepat, aman, dan bermartabat.
Termasuk, memastikan diberikannya perawatan medis terbaik dan komprehensif bagi lima penjaga perdamaian nan terluka untuk memastikan pemulihan mereka secara penuh dan cepat.
Sindir Pihak nan Salahkan Korban
Di samping itu, dia turut menyentil adanya beberapa pihak nan berdasar bahwa para prajurit nan gugur ini memang berada di area perang aktif.
Narasi ini seolah mengabaikan pertanyaan mendasar mengenai siapa nan bertanggung jawab menciptakan dan mempertahankan area permusuhan aktif tersebut.
“Eskalasi saat ini tidak muncul begitu saja. Hal ini berakar dari penyelundupan berulang kali oleh Militer Israel ke wilayah Lebanon,” tegasnya.
“Indonesia mengecam keras serangan Israel di Lebanon selatan, nan merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon,” sambungnya.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, bahwa seiring dengan meningkatnya eskalasi di Lebanon Selatan dalam beberapa minggu terakhir, serangan terhadap penjaga perdamaian UNIFIL rupanya juga turut meningkat.
Serangan berulang ini pun dinilainya bukan sekadar kejadian biasa. Tapi, serangan nan disengaja nan bermaksud untuk merusak UNIFIL dan menghalangi kemampuannya dalam memenuhi mandat Resolusi 1701.
Dia menyebut, serangan-serangan ini merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Sehingga dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang berasas norma internasional.
“Oleh lantaran itu, kami menuntut investigasi nan segera, menyeluruh, dan transparan. Izinkan saya mempertegas: kami menuntut investigasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan dalih dari pihak Israel,” tegasnya.
Selain itu, Indonesia juga menuntut agunan tegas dari semua pihak nan terlibat, termasuk Israel, untuk menegakkan tanggungjawab mereka di bawah norma internasional.
Indonesia mendesak agar serangan dan perilaku garang nan membahayakan personel dan aset PBB segera menghentikan.
Semua pihak juga diminta menahan diri dari tindakan apa pun nan memperparah permusuhan.
Umar juga menyentil kegunaan DK PBB dan Sekjen PBB. Dia meminta, agar PBB segera menerapkan langkah-langkah darurat untuk memastikan perlindungan penuh bagi personel dan aset UNIFIL.
Termasuk peninjauan protokol pengaturan keamanan, serta aktivasi rencana kontingensi dan pemindahan nan sepadan dengan perkembangan di lapangan. (jpg)
1 bulan yang lalu

English (US) ·
Indonesian (ID) ·