SAMPIT – Ratusan masyarakat memadati pelataran dan lapangan Masjid Al Muhajirin Komplek Perguruan Muhammadiyah di Jalan Ahmad Yani, Sampit, pada penyelenggaraan Salat Iduladha 1447 Hijriah, Rabu 27 Mei 2026.
Suasana pagi nan hangat diselimuti kemandang takbir nan bersahut-sahutan mengiringi kehadiran penduduk berbareng family untuk menunaikan ibadah salat hari raya.
Jemaah tampak memenuhi area lapangan masjid sejak sebelum penyelenggaraan salat dimulai 06.30 WIB. Momen Iduladha tersebut menjadi arena silaturahmi masyarakat sekaligus bentuk syukur atas kesempatan kembali merayakan hari besar umat Islam secara bersama-sama.
Panitia kurban Masjid Perguruan Muhammadiyah tahun ini menerima hewan kurban berupa dua ekor sapi nan berasal dari 14 jiwa, serta 11 ekor kambing dari 11 jiwa. Penyembelihan hewan kurban dijadwalkan dilaksanakan setelah rangkaian Salat Iduladha selesai.
Bertindak sebagai pemimpin sekaligus khatib, Sa’ban H Mansyur membujuk seluruh jemaah untuk mensyukuri nikmat Allah SWT nan tetap memberikan kesempatan menjalani Iduladha tahun ini.
“Alhamdulillah hari ini kita kembali dapat datang memenuhi tanah lapang, memenuhi masjid dan musala dalam rangka penyelenggaraan Salat Iduladha 1447 Hijriah. Kita berterima kasih Allah tetap memberikan kesempatan kepada kita,” ujarnya dalam khutbah setelah salah id.
Ia mengingatkan bahwa tidak semua orang nan pernah berbareng pada Iduladha sebelumnya tetap dapat merasakan momen serupa tahun ini lantaran telah lebih dulu dipanggil oleh Allah SWT.
“Kita doakan mudah-mudahan orang tua, kerabat dan family kita nan telah lebih dulu dipanggil Allah SWT mendapatkan rahmat dan kemuliaan di sisi-Nya,” katanya.
Dalam khutbahnya, Sa’ban menjelaskan bahwa Iduladha merupakan momentum untuk memperbanyak takbir, tahmid dan tahlil sebagai corak syukur atas beragam nikmat nan diberikan Allah SWT. Rasa syukur tersebut, menurutnya, dapat disempurnakan melalui ibadah kurban bagi umat Islam nan mempunyai kemampuan.
“Berkurban adalah corak nyata pengabdian kepada Allah dan upaya mendekatkan diri kepada-Nya dalam setiap aspek kehidupan,” tuturnya.
Ia juga mengutip sabda riwayat Ibnu Majah nan menjelaskan bahwa ibadah nan paling dicintai Allah pada hari raya kurban adalah menyembelih hewan kurban. Menurutnya, ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan simbol keikhlasan dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah SWT.
“Berkurban membersihkan jiwa dan menjadi sarana berbagi kepada sesama, khususnya fakir miskin. Pahalanya sangat besar di sisi Allah SWT,” ucapnya.
Selain itu, khatib menegaskan bahwa prinsip kurban bukan hanya penyembelihan hewan, tetapi juga menyembelih kecintaan berlebihan terhadap urusan bumi nan dapat mengurangi kecintaan kepada Allah SWT.
“Bukan daging dan darah hewan kurban nan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari kita. Karena itu mari berkurban dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan,” katanya sembari mengutip Surah Al-Hajj ayat 37.
Pada bagian akhir khutbah, Sa’ban mengangkat kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai teladan dalam pendidikan keluarga. Ia menyoroti langkah Nabi Ibrahim melibatkan putranya dalam musyawarah ketika menerima perintah Allah untuk menyembelih Ismail.
Menurutnya, metode tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak guna membentuk generasi nan tangguh, bertanggung jawab serta mempunyai ketahanan mental nan kuat.
“Anak-anak nan diberi ruang untuk berbincang dan didengarkan pendapatnya bakal tumbuh lebih percaya diri serta siap menghadapi beragam persoalan kehidupan,” ujarnya.
Ia berambisi seluruh orang tua bisa meneladani pola pendidikan Nabi Ibrahim dalam membimbing anak-anak agar tumbuh menjadi generasi nan beriman, mencintai Allah SWT, serta siap berkorban demi menegakkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. (Nardi)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·