Jakarta -
Nilai tukar rupiah melemah ke level terendah terhadap dolar Singapura pada 15 April. Kondisi ini terjadi imbas tekanan kenaikan nilai minyak akibat perang Iran serta arus keluar modal dari pasar obligasi dan saham Indonesia.
Dikutip dari The Strait Times, Jumat (17/4/2026), pelemahan ini memicu kekhawatiran bakal penurunan permintaan Indonesia terhadap jasa Singapura, khususnya sektor kesehatan, serta potensi melambatnya ekspor ke Indonesia. Pada 16 April, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp 13.500 per dolar Singapura. Menurut info Bloomberg, sepanjang 2025, rupiah melemah 9,3% terhadap dolar Singapura, dan kembali turun sekitar 4% pada 2026.
S&P Global Ratings menyebut profil angsuran Indonesia termasuk nan paling terdampak jika bentrok di Timur Tengah berjalan lama. Meski merupakan produsen minyak, Indonesia tetap menjadi importir sehingga kenaikan nilai daya meningkatkan biaya impor dan subsidi BBM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini melemahkan neraca perdagangan serta posisi fiskal. Selain itu, meningkatnya ketidakpastian dunia mendorong penanammodal menarik biaya dari pasar Indonesia menuju aset nan lebih kondusif nan berakibat pada tekanan terhadap rupiah.
Data resmi menunjukkan penanammodal asing mencatat penjualan bersih sebesar US$ 202 juta di obligasi pemerintah Indonesia pada Januari. Arus keluar ini juga terjadi berbarengan dengan koreksi pasar saham domestik nan menghapus sekitar US$ 80 miliar nilai pasar setelah MSCI menyoroti rumor kepemilikan dan transparansi perdagangan.
Saxo Bank menyebut rupiah telah berada dalam tren pelemahan jangka panjang, dengan ketegangan di Timur Tengah memperburuk tekanan. Gangguan pada aliran minyak melalui Selat Hormuz turut mendorong kenaikan nilai energi, sehingga biaya dunia mengalir ke dolar AS dan menjauhi mata duit berisiko seperti rupiah.
Lembaga pemeringkat Moody's juga merevisi outlook Indonesia menjadi negatif, mengutip ketidakpastian politik dan melemahnya tata kelola. Sementara itu, MSCI menunda penyesuaian positif terhadap aset Indonesia, nan memicu tindakan jual besar di pasar.
Rupiah Diprediksi Pulih
Ke depan, analis tetap memperkirakan rupiah berpotensi pulih secara bertahap. DBS menilai rupiah saat ini sudah undervalued dan berkesempatan menguat seiring upaya reformasi pasar untuk meningkatkan kepercayaan investor.
UOB menyebut Bank Indonesia (BI) diperkirakan terus menjaga stabilitas nilai tukar guna menahan pelemahan lebih lanjut. BI telah melakukan intervensi di pasar valas dengan menggunakan persediaan devisa nan turun US$ 3,7 miliar menjadi US$ 148,2 miliar pada Maret, serta memperketat kebijakan moneter untuk mengelola volatilitas.
"Jika bentrok Iran terus mereda, perbaikan sentimen dunia dan posisi rupiah nan sudah melemah dapat menjadi kesempatan masuk nan menarik bagi penanammodal obligasi asing," kata UOB senior foreign exchange strategist, Peter Chia.
Ia menambahkan, pergerakan rupiah ke depan sangat berjuntai pada minat penanammodal terhadap obligasi Indonesia.
(ily/ara)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·