Jakarta -
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melakukan pertemuan dengan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi.
Pertemuan nan berjalan sekitar 1,5 jam dari pukul 10.30 hingga 12.00 WIB di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, membahas pembangunan Indonesia Financial Center (IFC) di Bali.
Usai pertemuan, Perry meninggalkan instansi Kemenko Perekonomian sekitar pukul 12.06 WIB. Dalam kesempatan ini, dirinya dihujani pertanyaan mengenai pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) nan sudah menyentuh Rp 17.400/dolar AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Perry hanya tersenyum dan terus melangkah menuju mobil dinasnya nan sudah menunggu di depan lobby instansi Kemenko Perekonomian. Sesekali dia hanya sedikit melambaikan tangan menunjukkan keengganannya untuk memberikan tanggapan.
Terhadap setiap pertanyaan nan dilontarkan mengenai pelemahan mata duit Garuda ini, dia hanya mengucapkan "terima kasih" dan terus mengulangi jawaban itu sampai ke dalam mobil dan meninggalkan kawasan.
Sebagai informasi, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap rupiah pagi ini. Mata duit Paman Sam menembus level Rp 17.400. Terkait perihal ini BI juga sudah buka bunyi soal pelemahan mata duit Indonesia terhadap dolar Paman Sam.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea menyampaikan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata duit Paman Sam nan terjadi belakangan ini dinilai tetap sejalan dengan pergerakan mata duit negara lainnya di tengah eskalasi ketegangan geopolitik nan tetap terjadi.
Menurutnya sebagian mata duit juga melemah, misalnya mata duit Philippine Peso turun 6,58%, Thailand Baht loyo 5,04%, India Rupee berkurang 4,32%, demikian pula dengan Chile Peso melemah 4,24%, Indonesia Rupiah turun 3,65%, dan Korea Won melemah 2,29%.
"Pergerakan Rupiah sejak awal bentrok di Timur Tengah hingga saat ini tetap sejalan dengan kebanyakan mata duit emerging market lainnya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (5/5/2026).
Di tengah kondisi tersebut, Erwin menegaskan BI bakal terus datang di pasar untuk memastikan sistem pasar melangkah dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya. BI bakal terus mengoptimalkan intervensi di pasar kurs asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
"Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global," katanya.
(igo/fdl)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·