Jakarta -
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah dugaan nan menyebut pelemahan rupiah disebabkan lantaran fiskal nan goyah. Menurut Purbaya rumor ini sudah tersebar luas di masyarakat.
Purbaya menjelaskan, pihak nan lebih berkuasa mengurusi rupiah adalah Bank Indonesia (BI). Saat buletin ini ditulis, dolar AS berada pada level Rp 17.423 alias menguat 0,17%.
"Orang juga banyak bilang Indonesia fiskalnya goyah maka rupiahnya melemah dan lain-lain. Kalau rupiah tanya BI ya, jangan tanya saya. Mereka nan berkuasa menjawab," kata Purbaya dalam konvensi pers APBN KiTA di instansi Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Purbaya menegaskan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Maret 2026 tetap dalam kondisi terkendali. Berdasarkan data, defisit tercatat sebesar Rp 240,1 triliun alias setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Purbaya menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit APBN sepanjang tahun di bawah pemisah 3% sesuai kreasi fiskal. Ia juga mengingatkan agar nomor defisit kuartal I tidak disederhanakan dengan langkah mengalikannya empat kali untuk memproyeksikan setahun penuh.
"Surplus dan defist, mencapai Rp 240,1, itu defisti, itu 0,93% dari PDB. Tapi kelak jangan dikali 4, lantaran setiap tahun bakal beda belanjanya dan siklus incomenya beda, siklus belanjanya beda, nan jelas sepanjang tahun bakal kita kendalikan di bawah 3% sesuai dengan kreasi APBN," ujarnya.
"Jadi defisit Rp 240,1 itu 0,93%. Kalo dikali 4 berapa? Orang di pasar kan gitu ngalinya empat, itu 3,6% katanya. Itu itungannya ngaco, lantaran APBN turun naik, income juga naik, ada siklusnya," sambung Purbaya.
Dari sisi kinerja, hingga Maret 2026 APBN disebut cukup ekspansif. Pendapatan negara tumbuh sekitar 10% sebesar Rp 574,9 triliun secara tahunan, dengan penerimaan perpajakan meningkat 14% sebesar Rp 462 triliun, dan penerimaan pajak saja mencapai Rp 394,8 triliun alias tumbuh 20,7%.
(acd/acd)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·