Pernah Mimpi Buruk Sehabis Makan Keju? Ternyata Pernah Diteliti, Ini Temuan Ilmiahnya

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Jakarta -

Pernah mendengar larangan makan keju sebelum tidur lantaran konon bisa menyebabkan mimpi buruk? Kepercayaan ini sudah beredar selama puluhan tahun dan kerap dianggap sebagai mitos belaka. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dugaan tersebut mungkin tidak sepenuhnya salah.

Meski demikian, para mahir menegaskan bahwa penyebabnya kemungkinan bukan keju itu sendiri. Ada aspek lain nan diduga berperan, ialah gangguan pencernaan nan dialami sebagian orang setelah mengonsumsi produk susu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Benarkah Keju Bisa Memicu Mimpi Buruk?

Hubungan antara keju dan mimpi jelek sebenarnya sudah lama menjadi bahan perdebatan. Bahkan, kepercayaan bahwa makan keju sebelum tidur dapat memicu mimpi nan asing alias menakutkan telah beredar selama puluhan tahun.

Dugaan tersebut sempat diteliti oleh Tore Nielsen dan rekan-rekannya dari Université de Montréal dalam studi nan dipublikasikan di jurnal Frontiers in Psychology pada 2015. Penelitian itu meneliti hubungan antara pola makan, kualitas tidur, dan mimpi pada sejumlah responden.

Hasilnya menunjukkan bahwa produk susu, termasuk keju, menjadi salah satu jenis makanan nan paling sering dikaitkan responden dengan mimpi nan mengganggu. Selain produk susu, makanan pedas dan makanan manis juga kerap disebut memengaruhi pengalaman bermimpi.

Meski demikian, dalam riset tersebut belum dapat memastikan apakah keju betul-betul menjadi penyebab mimpi buruk. Temuan ini lebih menunjukkan adanya hubungan berasas pengalaman nan dilaporkan responden, bukan bukti bahwa keju secara langsung memicu mimpi nan menakutkan.

Karena itu, mahir menilai tetap diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami apa nan sebenarnya terjadi. Jika memang ada kaitan antara produk susu dan mimpi buruk, pertanyaan berikutnya adalah: apa sistem nan mendasarinya?

Hubungan Keju, Pencernaan, dan Mimpi Buruk

Sepuluh tahun setelah studi sebelumnya, Tore Nielsen dan rekan-rekannya dari Université de Montréal kembali menelusuri hubungan antara makanan dan mimpi. Studi lanjutan nan dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada 2025 itu melibatkan 1.082 mahasiswa dan mencoba mencari penjelasan nan mungkin berada di kembali dugaan bahwa produk susu dapat memicu mimpi buruk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mimpi jelek lebih sering dilaporkan oleh peserta nan mempunyai intoleransi laktosa dan mengalami indikasi pencernaan, seperti kembung, banyak gas, alias nyeri perut. Menurut ahli, gangguan pencernaan nan muncul saat tidur dapat mengganggu kualitas rehat seseorang, sehingga memengaruhi pengalaman bermimpi.

Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa hubungan antara intoleransi laktosa dan mimpi jelek sebagian besar dapat dijelaskan oleh tingkat keparahan indikasi pencernaan nan dialami peserta. Dengan kata lain, bukan keju alias produk susu itu sendiri nan diduga memicu mimpi buruk, melainkan rasa tidak nyaman pada saluran cerna nan muncul setelah mengonsumsinya.

"Nightmare severity is robustly associated with lactose intolerance and other food allergies," tulisnya dalam studi tersebut. Mereka juga menyebut bahwa temuan ini dapat membantu menjelaskan kenapa produk susu selama ini sering dianggap sebagai pemicu mimpi buruk.

Meski demikian, mahir mengingatkan bahwa studi ini berkarakter observasional sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah mengurangi konsumsi produk susu pada orang dengan intoleransi laktosa betul-betul dapat menurunkan gelombang mimpi jelek alias memperbaiki kualitas tidur mereka.

Meski begitu, temuan ini memberikan petunjuk bahwa bagi sebagian orang, khususnya nan mempunyai intoleransi laktosa, gangguan pencernaan pada malam hari mungkin menjadi "dalang" di kembali mimpi jelek nan selama ini dikaitkan dengan keju.

Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)

Sumber detik-health