Banyak penduduk Malaysia disebut tanpa sadar mengonsumsi garam melampaui pemisah harian nan dianjurkan. Kondisi ini dikhawatirkan meningkatkan akibat hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke.
Bertepatan dengan Pekan Kesadaran Garam Sedunia nan diperingati pada 12-18 Mei, juga Hari Hipertensi Sedunia, para mahir kesehatan mengingatkan garam menjadi salah satu masalah pola makan nan kerap luput diperhatikan masyarakat.
Selama ini, banyak orang lebih konsentrasi pada konsumsi gula. Padahal, asupan garam berlebih juga menjadi aspek akibat utama penyakit kardiovaskular, nan hingga sekarang tetap menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Survei Kesehatan dan Morbiditas Nasional 2024, sekitar tiga dari empat orang dewasa di Malaysia rutin mengonsumsi makanan tinggi garam.
Rata-rata penduduk Malaysia mengonsumsi sekitar 7,3 gram garam per hari. Angka ini jauh melampaui rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ialah kurang dari 5 gram alias sekitar satu sendok teh per hari.
Masalahnya, natrium sering tersembunyi dalam makanan sehari-hari nan tidak selalu terasa asin. Sumber utamanya berasal dari saus, kuah, sup, mi, makanan olahan, hingga makanan nan dibeli di luar rumah.
Para mahir menilai mahasiswa menjadi salah satu golongan nan rentan, lantaran pola makan di lingkungan universitas identik dengan makanan sigap saji nan murah dan praktis.
Kebiasaan ini dikhawatirkan terus terbawa hingga dewasa.
Maka dari itu, sejumlah lembaga pendidikan mulai mencoba menghadirkan pilihan makanan rendah garam lewat kerja sama dengan vendor makanan, kampanye nutrisi, hingga reformulasi resep.
Tujuannya bukan mengubah budaya makan secara total, melainkan mendorong pilihan nan lebih sehat tanpa mengorbankan rasa dan harga.
Kesadaran masyarakat mengenai kandungan natrium juga tetap rendah. Banyak orang tidak menyadari makanan seperti gorengan, mi instan, daging olahan, dan makanan siap saji mengandung garam tinggi.
"Tidak seperti gula, nan seringkali terlihat alias mudah dikaitkan dengan rasa manis, garam condong menyatu secara diam-diam ke dalam kebiasaan makan sehari-hari," tulis laporan tersebut, dikutip dari Free Malaysia Today.
Peneliti dunia sekarang juga mulai mengembangkan pengganti berupa garam rendah natrium nan sebagian kandungannya diganti kalium, tetapi tetap mempertahankan rasa serupa.
Sejumlah bukti awal menunjukkan pengganti garam tersebut dapat membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi akibat penyakit kardiovaskular, jika dikombinasikan dengan strategi pengurangan garam lainnya.
Para mahir menegaskan mengurangi garam tidak kudu dilakukan secara ekstrem. Langkah sederhana seperti mengurangi bumbu, memilih makanan rendah natrium, alias mengurangi garam saat memasak dinilai sudah bisa membantu tubuh beradaptasi secara bertahap.
(sao/naf)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·