Pentagon Pecat Menteri Angkatan Laut As Saat Kalut Perang Lawan Iran

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Perang (dahulu Kementerian Pertahanan) Amerika Serikat memecat Menteri Angkatan Laut John Phelan di tengah perang melawan Iran nan tetap berjalan sejak 28 Februari lalu.

Seorang sumber nan mengetahui masalah ini mengatakan kepada Reuters pemecatan Phelan ini menjadi gelombang perombakan baru di Pentagon saat masa perang dan berjalan hanya beberapa pekan setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth mencopot jenderal tertinggi Angkatan Darat AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pentagon dalam pernyataannya mengatakan Phelan "meninggalkan pemerintahan, bertindak segera", tanpa memberikan rincian lebih lanjut. 

"Atas nama Menteri Perang dan Wakil Menteri Perang, kami berterima kasih kepada Menteri Phelan atas pengabdiannya kepada Kementerian dan Angkatan Laut Amerika Serikat," kata ahli bicara utama Pentagon Sean Parnell, Rabu (24/4) waktu AS.

"Kami mendoakan nan terbaik untuk langkah selanjutnya."

Parnell menuturkan wakil Phelan sekaligus pejabat sipil nomor dua di Angkatan Laut, Wakil Menteri Hung Cao, bakal mengambil alih jabatan sementara.

Pada 2 April, Hegseth memecat Kepala Staf Angkatan Darat AS Randy George tanpa menyebut alasan. Dua pejabat AS mengatakan keputusan itu berangkaian dengan ketegangan antara Hegseth dan Menteri Angkatan Darat Daniel Driscoll.

Pemecatan pada April itu menambah gejolak di beragam tingkat kepemimpinan Pentagon, termasuk pemecatan tahun lampau terhadap Ketua Kepala Staf Gabungan sebelumnya, Jenderal Angkatan Udara C.Q. Brown, serta kepala operasi angkatan laut dan wakil kepala staf Angkatan Udara.

Pergantian terbaru ini terjadi di tengah gencatan senjata nan tegang dengan Iran, ketika AS mengerahkan lebih banyak aset angkatan laut ke area Timur Tengah.

Militer AS sekarang mengandalkan kekuatan angkatan laut untuk menjalankan blokade terhadap Iran, nan diharapkan Presiden Donald Trump dapat menekan Teheran agar mau datang ke meja perundingan dan mengakhiri perang sesuai syarat nan diinginkan AS.

Saat ini, AS juga dihadapkan dengan ketidakpastian soal perang melawan Iran lantaran Teheran masih ogah menghadiri putaran kedua negosiasi tenteram di Islamabad, Pakistan, nan semestinya berjalan awal pekan ini. 

Situasi ini sampai-sampai membikin Trump mendadak mengumumkan perpanjangan gencatan senjata nan semestinya berhujung pada Rabu (22/4) dengan dalih memberi Iran lebih banyak waktu untuk merampungkan proposal perundingan.

Padahal beberapa jam sebelum mengumumkan gencatan senjata tanpa perincian pemisah waktu ini, Trump tetap melayangkan ultimatum dan rentetan ancaman untuk menyerang Iran lagi.

Pakar kebijakan luar negeri AS, Barbara Slavin, menilai keputusan Trump memperpanjang gencatan senjata "merupakan langkah untuk menutupi rasa malu lantaran AS sudah siap mengirim wakil presiden ke Pakistan, sementara Iran belum siap melakukannya."

Kini, menurutnya, Trump berada "jelas dalam posisi serba salah."

"Perang ini tidak melangkah seperti nan dia harapkan sejak awal, dan Iran telah menemukan daya tawar baru melalui kendalinya atas Selat Hormuz," kata Slavin kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan, Amerika semestinya "melepaskan tuntutan maksimalisnya" dan menawarkan kepada Iran "semacam isyarat bahwa Washington sungguh serius mencari penyelesaian."

(rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional