Jakarta -
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) untuk melakukan uji coba campuran bioetanol sebesar 20% dalam bensin alias E20.
Adapun mandatori E20 bakal diterapkan pada 2028. Langkah ini guna mengurangi ketergantungan impor BBM
"Saya sedang minta asosiasi untuk mari kita sama-sama uji langsung road test E20. Nah itu saya minta tim Gaikindo tuh. Kamu janji ya, mari kita secepatnya E20 uji road test-nya," ujar Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Eniya jika hasil dari uji jalan E20 berjalan tanpa hambatan besar pada kendaraan nan beredar di masyarakat saat ini, maka nantinya penerapan E10 bakal lebih cepat.
"Kalau itu oke kan berfaedah 10% nggak apa-apa. Tapi jika saya percaya produk-produk mobil nan sekarang itu bisa sampai 30%, itu di jurnal ada," terangnya.
"Jadi kan tinggal dicari aja theoretical base-nya. Tapi saya percaya 30% itu nggak masalah. Cuman tahun berapa nan bisa E10, tahun berapa nan bisa E20, tahun berapa nan bisa sampai E30," sambungnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa Indonesia semestinya bisa menerapkan mandatori E20. Pasalnya, bahan baku untuk mandatori tersebut sangat melimpah, misalnya seperti singkong, jagung, dan tebu.
Hal ini dia dapati saat melakukan kunjungan ke Brasil, negara nan telah lebih dulu menerapkan mandatori pencampuran etanol.
"Kalau kita mandatori 20%, berfaedah kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (3/5/2026).
Bahlil mengatakan mengatakan mandatori E20 merupakan strategi jangka panjang Indonesia untuk tak berjuntai terhadap impor. Langkah nan telah sukses dilakukan pemerintah pada tahun ini adalah Indonesia sudah tak lagi impor solar.
Menurutnya, keberhasilan ini ditopang oleh kebijakan mandatori biodiesel nan diterapkan secara berjenjang selama nyaris satu dekade, dengan pencampuran solar dan minyak sawit nan sekarang mencapai 40% dan direncanakan meningkat menjadi 50% pada Juli mendatang.
"Dengan skema ini, sebagian kebutuhan solar nan sebelumnya dipenuhi dari impor sekarang dapat digantikan oleh produk berbasis sawit nan diproduksi di dalam negeri," terang Bahlil.
(hrp/hns)
6 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·