Palestina Gelar Pemilu Lokal Pertama Di Gaza Pasca-perang

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Warga Palestina di Tepi Barat dan wilayah Deir el-Balah di Gaza tengah memberikan bunyi dalam pemilihan munisipal atau pemilu lokal pada Sabtu (25/4).

Pemungutan bunyi ini menjadi nan pertama digelar sejak perang Gaza pecah, di tengah ruang politik nan sempit dan kekecewaan luas di kalangan warga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir laporan AFP, nyaris 1,5 juta orang terdaftar sebagai pemilih di Tepi Barat nan diduduki Israel. Sementara di Deir el-Balah, Gaza tengah, jumlah pemilih terdaftar mencapai sekitar 70 ribu orang. 

Pemilu kali ini didominasi daftar calon nan berafiliasi dengan Fatah, partai sekuler nasionalis ketua Presiden Palestina Mahmud Abbas, alias maju sebagai independen. Tidak ada daftar nan terhubung dengan Hamas, rival utama Fatah nan menguasai nyaris separuh Jalur Gaza.

Di banyak kota, daftar nan didukung Fatah bakal bersaing dengan kandidat independen nan berasal dari beragam faksi lain, termasuk Front Populer untuk Pembebasan Palestina. Namun di sejumlah kota seperti Nablus dan Ramallah, hanya satu daftar nan mendaftar sehingga otomatis dinyatakan menang tanpa pemungutan suara.

Di tengah keterbatasan itu, sebagian penduduk tetap datang ke TPS meski tak banyak berambisi pemilu bakal membawa perubahan besar.

Mahmud Bader, seorang pebisnis dari Tulkarem di Tepi Barat utara, mengatakan bahwa dia tetap bakal memilih meski tak meletakkan banyak angan terhadap hasil pemilu.

"Apakah kandidatnya independen alias partisan, itu tidak berpengaruh dan tidak bakal berpengaruh alias memberi faedah bagi kota ini," kata Bader.

Ia menilai, realitas di lapangan tetap tidak berubah lantaran kehidupan penduduk tetap dibayangi kontrol Israel.

"Pendudukan [Israel] lah nan menguasai Tulkarem. Ini hanya bakal menjadi gambaran nan ditunjukkan kepada media internasional seolah-olah kami punya pemilu, negara, alias kemerdekaan," ujarnya.

Koordinator PBB Ramiz Alakbarov memuji komisi pemilihan lantaran dinilai bisa menyelenggarakan proses nan andal di tengah situasi sulit.

"Pemilu Sabtu ini merupakan kesempatan krusial bagi penduduk Palestina untuk menggunakan kewenangan demokratis mereka di tengah periode nan sangat menantang," kata Alakbarov dalam pernyataannya.

Sementara itu, Ilmuwan politik dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Jamal al-Fadi, menilai Otoritas Palestina hanya menggelar pemilu di Deir el-Balah sebagai semacam percobaan untuk mengukur keberhasilan alias kegagalan, terutama lantaran tidak ada jajak pendapat pascaperang.

Abbas, nan sekarang berumur 90 tahun, telah memperkuat di bangku kekuasaan selama lebih dari dua dasawarsa tanpa pernah dipilih kembali. Selama ini dia berulang kali menjanjikan pemilu legislatif dan presiden, tetapi tak kunjung terealisasi.

Menurut Fadi, Deir el-Balah dipilih lantaran menjadi salah satu dari sedikit wilayah di Gaza nan penduduknya sebagian besar tetap memperkuat di tempat dan tidak mengalami pengungsian besar-besaran selama lebih dari dua tahun perang antara Hamas dan Israel.

Bagi sebagian warga, pemilu ini tetap punya makna penting, bukan hanya secara politik tetapi juga simbolik.

Seorang penduduk Farah Shaath (25) mengaku antusias mencoblos untuk pertama kalinya.

"Walaupun ini tidak seperti pemilu mana pun di dunia, ini adalah penegasan bahwa kami tetap ada di Jalur Gaza meski di tengah segala perihal nan terjadi," katanya.

Komisi pemilihan menyebut petugas TPS direkrut dari organisasi masyarakat sipil. Mereka juga menunjuk perusahaan keamanan swasta untuk menjaga tempat pemungutan bunyi di Gaza.

Tempat pemungutan bunyi di Tepi Barat dibuka mulai pukul 07.00 hingga 19.00 waktu setempat. Sementara di Deir el-Balah, pemungutan bunyi ditutup lebih cepat, ialah pukul 17.00, agar penghitungan bunyi bisa dilakukan saat tetap terang lantaran keterbatasan listrik di wilayah Gaza nan hancur akibat perang.

Pemilu di Gaza sendiri menjadi sorotan tersendiri lantaran ini merupakan pemungutan bunyi pertama di wilayah itu sejak Hamas mengambil alih kekuasaan pada 2007. Sebelumnya, pemilu terakhir di Gaza adalah pemilu legislatif 2006.

(anm/asr)

Add as a preferred
source on Google
Sumber cnn-internasional