Netanyahu Dicap 'bunuh Diri' Jika Mau Rusak Mou Damai As-iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berada dalam posisi tercekik lantaran keputusan Amerika Serikat untuk meneken nota kesepahaman (MoU) menghentikan perang dengan Iran tak sejalan dengan keinginannya.

Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa Israel belum selesai memerangi Iran dan sekutunya Hizbullah, dengan melancarkan serangan ke Lebanon.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, Presiden AS Donald mengakui sikap Netanyahu mempersulit upayanya menghentikan perang. Ia apalagi mengaku frustrasi menghadapi Israel dan serangannya ke Lebanon nan bisa mengganggu perundingan AS-Iran.

Trump blak-blakan mengatakan jika bukan tanpa dirinya, tidak bakal ada Israel dan Tel Aviv semestinya manut dan berterima kasih lantaran keamanan negara Zionis itu bisa terjamin.

"Tanpa saya, tidak bakal ada Israel lantaran tidak ada presiden lain nan bersedia melakukan apa nan sudah saya lakukan," kata Trump kepada awak media pada Selasa (16/6) saat ditanya soal Netanyahu dikutip CNN.

Analis politik Israel Akiva Eldar mengatakan Netanyahu telah menempatkan dirinya dalam posisi susah lantaran terlalu erat menyelaraskan diri dengan Trump. 

Menurut Eldar, perihal itu membuat Netanyahu saat ini tidak mempunyai pilihan selain manut dan mengikuti game plan Trump mengenai Iran. Salah satunya, menghentikan serangan ke Lebanon nan menjadi bagian dari syarat gencatan senjata AS-Iran.

"Menolak Presiden Trump secara terang-terangan dan tetap memperkuat di Lebanon adalah langkah bunuh diri secara politik baginya," kata Eldar kepada Al Jazeera.

Ia menilai Netanyahu memandang situasi saat ini melalui kacamata pemilu Israel nan bakal datang.

"Netanyahu sedang bermain, baik secara politik maupun diplomatik, dengan punggung menempel ke dinding," ujar Eldar.

"Jika dia menerima dikte Amerika Serikat, itu bakal menjadi preseden, lantaran selama ini Netanyahu terus mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya pemimpin nan bisa mengatakan tidak kepada Presiden Amerika Serikat," paparnya menambahkan.

Sementara itu, program-program komentar politik di televisi Israel dilaporkan mengalami kepanikan kolektif setelah teks MoU sementara AS-Iran mulai beredar di media Israel.

Bagi publik Israel, mereka meyakini perang nan didorong Tel Aviv agar dilancarkan AS terhadap Iran ini harus berhujung dengan perubahan rezim di Iran.

Selain itu, perang AS ke Iran ini bukan hanya memastikan program nuklir Iran berhenti, tetapi juga keahlian Teheran untuk memperkaya uranium dan memproduksi rudal balistik di masa depan turut berhenti.

Publik dan pejabat Israel apalagi menilai kesepakatan MoU AS-Iran ini sebagai mimpi buruk. Sebab, tidak satu pun dari tujuan-tujuan Israel tercantum dalam draf MoU yang bocor itu.

Dari perspektif pandang Israel, tidak adanya kesepakatan justru dianggap lebih baik daripada kesepakatan nan ada saat ini.

Yang semakin membikin Israel ketar-ketir adalah arsip tersebut tidak melarang Iran melakukan pengayaan uranium, tidak menyinggung program rudal balistik Iran, dan tidak membahas sekutu-sekutu regional Teheran, termasuk Hizbullah.

Sebaliknya, penghentian perang di Lebanon justru secara definitif dicantumkan dalam kesepakatan.

Semua perihal itu dinilai tidak menguntungkan bagi Netanyahu, mitra-mitra koalisinya, maupun opini publik Israel nan kebanyakan tetap menentang penghentian perang terhadap Iran dan Lebanon.

Terkait bentrok antara Israel dan Hizbullah, Netanyahu mempunyai taruhan nan sangat besar, baik secara politik maupun pribadi.

Diketahui, Netanyahu juga tetap menghadapi beragam tuduhan nan berpotensi berujung pada proses norma pidana korupsi, nan kemungkinan kudu dia hadapi jika kalah dalam pemilu berikutnya.

(rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional