Menkomdigi Bertemu 'bapak Ai' Dunia, Ini Yang Dibahas

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkap isi pertemuannya dengan Yoshua Bengio, salah satu "Bapak AI" dunia, beberapa waktu lalu. Ia mengatakan banyak mendengar soal akibat dari teknologi AI nan tengah tumbuh pesat.

Cerita pertemuan dengan penerima Turing Award tersebut disampaikan Meutya dalam sambutan di Bravo 500 Summit XLSmart, Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (11/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan pertemuan mereka berjalan di Singapura, dalam forum nan juga dihadiri Presiden Singapura. Meutya mengaku berambisi mendapat banyak perspektif optimistis tentang masa depan AI.

Namun, perbincangan tersebut melangkah ke arah berbeda. Sekitar 80 persen perbincangan Bengio, menurut Meutya, justru membahas mitigasi dan bukan potensi.

"You have to regulate cautiously," ujar Meutya, menirukan pesan Bengio.

"Dia lebih banyak menyampaikan hal-hal nan berkarakter mitigasi terhadap kerusakan-kerusakan nan potensi terjadi," kata Meutya.

Bengio juga secara unik menekankan kecepatan perubahan AI nan melampaui kesiapan semua pihak.

"Siap alias tidak regulasi, siap alias tidak pemerintah, siap alias tidak masyarakat," ujarnya, menirukan pesan Bengio.

Meutya membawa cerita itu sebagai konteks kenapa Indonesia bergerak sigap menyusun kerangka izin AI.

Menurutnya, pemerintah tengah menyiapkan dua Peraturan Presiden (Perpres) mengenai kepintaran buatan, ialah satu izin nan mengatur etika AI, dan satu lagi soal implementasinya.

Kedua izin tersebut menetapkan 10 sektor prioritas, antara lain kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, ekonomi dan keuangan, hingga ekonomi kreatif.

Aturan ini diharapkan bisa disahkan pada tahun ini, usai tertunda selama beberapa waktu. Penundaan terjadi lantaran ada penyesuaian pada draf izin usai mendapat masukan dari sejumlah perusahaan Amerika Serikat (AS).

"Mudah-mudahan enggak ada lagi permintaan untuk konsultasi ulang. Tapi insya Allah tahun ini kita banget sangat confident lantaran pada prinsipnya Perpresnya sudah selesai," tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Meutya juga memaparkan filosofi digital Indonesia nan dia sebut T3, alias Terhubung, Tumbuh, Terjaga. Menurutnya, ketiga komponen ini tidak bisa dipisahkan.

"Pertumbuhan tanpa keterjagaan itu bukan hanya mubazir, tapi mudarat," ujarnya.

Ia membuka sambutan dengan merujuk kasus Clearview AI, perusahaan teknologi nan membangun database lebih dari tiga miliar foto penduduk Uni Eropa dari platform media sosial tanpa persetujuan, lampau menggunakannya untuk sistem pengenalan wajah.

Kasus itu, menurut Meutya, menjadi pengingat bahwa penemuan kudu melangkah beriringan dengan tanggung jawab.

Di sisi tindakan konkret, Meutya menyebut Indonesia telah menutup akses World App (Worldcoin) setelah banyak penduduk menyerahkan info retina mata demi insentif ekonomi.

Indonesia juga mengambil langkah terhadap aplikasi AI nan digunakan untuk memanipulasi foto wanita secara tidak etis.

(lom/lom)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-tekno