Lighthouse Parenting, Gaya Asuh Yang Membimbing Anak Tanpa Mengekang

Sedang Trending 4 jam yang lalu

CNN Indonesia

Jumat, 19 Jun 2026 13:15 WIB

https://pixabay.com/en/love-child-family-mother-momma-746678/ Ilustrasi. Lighthouse parenting membikin orang tua tidak intimidatif terhadap anak, dan dianggap jadi pola asuh nan mendekati sempurna. (marcisim/Pixabay)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah maraknya pola asuh nan serba mengawasi alias sebaliknya terlalu membebaskan, muncul konsep pengasuhan nan menawarkan jalan tengah. Namanya lighthouse parenting alias pola asuh mercusuar.

Gaya pengasuhan ini semakin banyak dibicarakan lantaran dinilai bisa membantu anak tumbuh mandiri, tangguh, sekaligus tetap merasa kondusif dan didukung oleh orang tua. Alih-alih mengendalikan setiap langkah anak, orang tua berkedudukan layaknya mercusuar nan memberikan arah dan penerangan saat dibutuhkan.

Mengutip Newport Academy, istilah lighthouse parenting pertama kali diperkenalkan oleh master anak Kenneth Ginsburg dalam bukunya pada 2015 nan membahas langkah membesarkan anak agar tumbuh sehat dan resilien.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ginsburg, orang tua semestinya menjadi sumber sinar nan stabil dan dapat diandalkan, membantu anak mengenali ancaman tanpa mengambil alih seluruh perjalanan hidup mereka.

Apa itu lighthouse parenting?

Lighthouse parenting merupakan corak pola asuh otoritatif (authoritative parenting) nan menekankan keseimbangan antara kasih sayang, aturan, perlindungan, dan kepercayaan.

Dalam konsep ini, orang tua datang sebagai sosok nan memberikan rasa aman, menjadi teladan, serta membantu anak memahami akibat nan mungkin dihadapi. Namun, mereka juga memberi ruang bagi anak untuk mengambil keputusan dan belajar dari pengalaman sendiri.

Seperti mercusuar nan menerangi lautan tanpa mengendalikan arah kapal, orang tua membantu anak memandang tantangan nan ada di depan, tetapi membiarkan mereka mengemudikan 'kapalnya' sendiri.

Pendekatan ini berbeda dengan pola asuh nan terlalu protektif alias helicopter parenting. Jika orang tua nan terlalu protektif condong menyelesaikan masalah anak, lighthouse parenting justru mengajarkan anak menghadapi dan menyelesaikan masalah tersebut dengan support nan tepat.

Manfaat lighthouse parenting

Berbagai penelitian mengenai pola asuh otoritatif menunjukkan bahwa pendekatan nan seimbang antara kehangatan dan batas mempunyai banyak faedah bagi perkembangan anak.

Melansir Love to Know, beberapa faedah nan dikaitkan dengan lighthouse parenting antara lain:

• Meningkatkan keahlian memecahkan masalah.

• Membantu anak lebih berdikari dan percaya diri.

• Memperkuat hubungan antara orang tua dan anak melalui rasa percaya.

• Menurunkan kecenderungan anak terlibat dalam perilaku berisiko.

• Mendukung prestasi akademik nan lebih baik.

• Membuat anak merasa lebih kondusif secara emosional.

• Meningkatkan ketahanan mental (resilience) dan keahlian mengandalkan diri sendiri.

• Mengembangkan keahlian sosial nan lebih baik.

• Mendorong kedewasaan dan sikap optimistis.

Dengan kata lain, anak tidak hanya belajar gimana berhasil, tetapi juga gimana bangkit saat menghadapi kegagalan.

Cara menerapkan lighthouse parenting

Menerapkan lighthouse parenting bukan berfaedah membiarkan anak melakukan apa saja. Kuncinya adalah menemukan keseimbangan antara perlindungan dan kepercayaan.

Berikut beberapa langkah nan dapat dilakukan orang tua:

1. Berikan support tanpa menghakimi

Anak memerlukan orang tua nan menjadi tempat kembali saat menghadapi kesulitan. Karena itu, hindari meremehkan minat alias kegemaran mereka meskipun berbeda dari angan Anda.

Dukung anak untuk mencoba hal-hal baru, menjalin pertemanan, dan mengeksplorasi minatnya. Ketika mereka kandas dalam ujian alias kalah dalam kompetisi, hadirkan support emosional alih-alih kritik nan menjatuhkan.

2. Bangun hubungan nan dilandasi kepercayaan

Kepercayaan merupakan fondasi utama dalam lighthouse parenting. Orang tua perlu menjelaskan argumen di kembali patokan nan dibuat sehingga anak memahami bahwa batas tersebut bermaksud melindungi, bukan mengontrol.

Sebaliknya, orang tua juga perlu menunjukkan kepercayaan kepada anak untuk mengambil keputusan nan bertanggung jawab. Menghormati privasi anak dan menjaga rahasia nan mereka percayakan juga menjadi bagian krusial dalam membangun hubungan nan sehat.

3. Biasakan komunikasi terbuka

Komunikasi nan baik membantu orang tua memahami apa nan dirasakan dan dipikirkan anak. Luangkan waktu untuk mendengarkan pendapat mereka, apalagi ketika pandangannya berbeda.

Ajukan pertanyaan, dengarkan jawabannya dengan sungguh-sungguh, dan hindari langsung menolak setiap permintaan nan diajukan. Sikap terbuka seperti ini dapat memperkuat ikatan emosional sekaligus membikin anak merasa dihargai.

4. Izinkan anak melakukan kesalahan

Salah satu prinsip terpenting dalam lighthouse parenting adalah membiarkan anak belajar dari akibat alami tindakannya. Misalnya, jika anak lupa membawa tugas sekolah, orang tua tidak kudu selalu bergegas mengantarkannya.

Ketika terjadi bentrok dengan kawan alias guru, beri kesempatan bagi anak untuk mencoba menyelesaikannya sendiri terlebih dahulu. Kesalahan bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar nan membantu anak berkembang menjadi pribadi nan lebih mandiri.

5. Tetapkan patokan nan jelas

Lighthouse parenting bukan pola asuh permisif nan membebaskan anak tanpa batas. Orang tua tetap perlu menetapkan patokan nan jelas dan konsisten, terutama nan berangkaian dengan keselamatan fisik, moral, dan psikologis anak.

Misalnya, menetapkan jam pulang bagi remaja, mengajarkan pentingnya menghormati orang lain, alias melarang perilaku nan dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-lifestyle