CNN Indonesia
Jumat, 19 Jun 2026 14:15 WIB
Ilustrasi. Ada sejumlah kebiasaan orang tua nan membikin anak tak berani mengambil keputusan. Orang tua perlu tahu apa saja itu agar bisa introspeksi diri. (istockphoto/Tran Van Quyet)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setiap orang tua tentu mau anak tumbuh menjadi pribadi nan mandiri, percaya diri, dan berani menentukan pilihan sendiri. Tentu, keahlian mengambil keputusan jadi bekal krusial nan bakal sangat berfaedah saat anak memasuki usia remaja hingga dewasa.
Namun, tanpa disadari, ada kebiasaan orang tua tertentu nan justru membikin anak tak berani ambil keputusan. Pola asuh seperti ini bisa muncul dari niat melindungi, tetapi dampaknya malah membikin anak ragu, takut salah, dan terlalu berjuntai pada orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebiasaan orang tua nan membikin anak tak berani mengambil keputusan
Jika dibiarkan, kondisi ini bisa memengaruhi kepercayaan diri anak dalam jangka panjang. Sebagai orang tua, Anda perlu tahu kebiasaan apa saja nan perlu diperbaiki agar anak lebih berani mengambil keputusan.
1. Terlalu melindungi anak dari risiko
Banyak orang tua berupaya menjauhkan anak dari ancaman dan kegagalan. Padahal, menurut Forbes, anak perlu mengalami sedikit akibat agar belajar menghadapi akibat dan membangun ketahanan mental.
Saat anak tidak pernah diberi kesempatan jatuh, salah, alias kecewa, mereka condong tumbuh menjadi pribadi nan mudah resah dan tidak percaya diri, terutama dalam mengambil keputusan.
2. Tidak pernah menceritakan kesalahan masa lalu
Orang tua terkadang menyimpan kesalahan masa lalunya untuk diri sendiri, mungkin lantaran mau menjaga wibawa di depan anak. Namun anak perlu belajar dari pengalaman nyata.
Anda perlu berbagi kesalahan masa lampau secara jujur dan relevan. Dengan begitu, anak bisa memahami setiap keputusan jelek punya konsekuensi, sekaligus belajar dari pengalaman orang tua tanpa kudu mengalaminya sendiri.
3. Selalu cegah anak alami kegagalan
Saat anak kesulitan, orang tua terkadang langsung memberi jawaban alias menyelesaikan masalahnya. Contohnya, saat anak kesulitan mengerjakan PR, orang tua malah memberi semua jawaban. Padahal, kebiasaan ini justru menghalang proses belajar.
Menurut CNBC Make It, jika selalu diselamatkan, anak tidak bakal terbiasa menghadapi tantangan dan akhirnya tak berani ambil keputusan saat menghadapi situasi nyata.
4. Tidak menerapkan batas nan konsisten
Anak memang perlu ruang untuk memilih, tetapi mereka juga butuh pemisah nan jelas. Misalnya, jika sudah ada jam malam, patokan itu kudu ditegakkan secara konsisten.
Jika patokan terus dinegosiasikan, anak bakal bingung mana nan boleh dan mana nan tidak. Lama-kelamaan, perihal ini bisa membikin anak susah memahami tanggung jawab dari setiap keputusan.
Harapan agar anak sukses itu wajar. Namun, jika standar nan dipasang terlalu tinggi, anak bisa merasa apa pun nan dilakukan tidak pernah cukup baik.
Tekanan seperti ini sering membikin anak takut salah dan takut memutuskan sesuatu. Alih-alih membentuk pribadi unggul, sikap perfeksionis justru bisa merusak rasa percaya diri anak.
6. Tidak memberi contoh nan baik
Anak belajar banyak dari apa nan dilihat, bukan hanya dari nasihat. Makanya, orang tua perlu menunjukkan perilaku nan sesuai dengan ucapan. Bila mau anak jujur, disiplin, dan tegas, orang tua juga kudu mempraktikkannya.
Dalam perihal pengambilan keputusan, tunjukkan bahwa Anda bisa bersikap tegas lampau konsisten menjalankannya. Ini bakal menjadi contoh kuat bagi anak di masa depan.
7. Menerapkan style parenting otoriter
Mengutip Wondermind, Profesor Psikologi Universitas DePaul, Joseph Ferrari, menemukan bahwa ayah nan otoriter bisa menimbulkan ketidaktegasan pada anak wanita dalam studinya pada 1994.
Kesimpulannya, anak-anak nan tumbuh dalam lingkungan otoriter, belajar bahwa pilihan mereka dapat menimbulkan masalah, sehingga condong memilih menunda keputusan.
Mendidik anak agar jadi lebih berdikari memang butuh kesabaran. Namun, dengan menghindari kebiasaan orang tua pada umumnya nan keliru, Anda bisa membantu anak tumbuh lebih percaya diri, berani, dan bisa mengambil keputusan dengan bijak.
(rti)
Add
as a preferred source on Google
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·