Kenapa Penampilan Orang Kaya Justru Lebih Sederhana? Simak Alasannya

Sedang Trending 2 jam yang lalu

anm | CNN Indonesia

Selasa, 16 Jun 2026 16:30 WIB

Fashion industry.  working in fashion boutique Ilustrasi. Ada beberapa argumen kenapa orang kaya justru senang tampil sederhana. (iStockphotoYuliya Taba)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Saat membayangkan orang kaya, banyak orang mungkin langsung terkenang pada busana mahal, arloji mewah, tas berlogo besar, alias beragam peralatan nan secara kasatmata menunjukkan nilai fantastis.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak orang kaya justru tampil sederhana. Mereka mengenakan kaus polos, sweater berwarna netral, celana kasual, sepatu tanpa logo mencolok, alias tas nan sekilas terlihat biasa saja.

Bukan berfaedah mereka tidak peduli pada penampilan. Barang nan dikenakan bisa saja tetap berbobot tinggi. Hanya saja, kemewahan tersebut tidak ditampilkan secara terang-terangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam bumi fesyen dan style hidup, style berpakaian seperti ini dikenal dengan istilah quiet luxury. Dalam kajian akademik, kejadian tersebut juga disebut inconspicuous consumption alias konsumsi nan tidak mencolok.

Lantas, kenapa sebagian orang kaya justru memilih tampil sederhana?

1. Tidak semua orang kaya mau terlihat kaya

Sebagian orang kaya merasa tidak perlu menunjukkan status sosial mereka kepada semua orang. Mereka tetap membeli peralatan berbobot tinggi, tetapi memilih kreasi nan sederhana dan tidak terlalu mencolok.

Studi Signaling Status with Luxury Goods menjelaskan bahwa konsumen kaya nan mempunyai kebutuhan status sosial lebih rendah condong memilih produk mewah nan lebih subtil. Produk seperti ini umumnya tidak mempunyai logo besar dan hanya dikenali oleh kalangan tertentu.

Karena itu, busana nan terlihat sederhana belum tentu murah. Kaus polos, sweater netral, alias sepatu tanpa logo bisa saja mempunyai nilai nan sangat tinggi. Bedanya, simbol status tersebut tidak ditujukan untuk konsumsi publik.

2. Logo besar tidak selalu dianggap berkelas

Pada masa lalu, logo besar menjadi langkah paling mudah untuk menunjukkan status sosial. Semakin jelas mereknya terlihat, semakin mudah pula orang lain menebak nilai peralatan tersebut.

Namun kini, produk mewah dengan logo besar semakin mudah ditiru, dipamerkan di media sosial, alias digunakan oleh lebih banyak kalangan. Akibatnya, sebagian orang kaya mulai menjauh dari style nan terlalu mencolok.

Studi Conspicuous and Inconspicuous Consumption of Luxury Goods menunjukkan bahwa ketika peralatan mewah semakin mudah diakses oleh kelas menengah, sebagian konsumen kaya beranjak ke corak kemewahan nan lebih lembut dan eksklusif.

3. Kesederhanaan bisa menjadi kode bagi mereka nan paham

Bagi sebagian orang, sweater polos mungkin terlihat biasa saja. Namun, bagi mereka nan memahami bumi fesyen, peralatan tersebut bisa langsung dikenali sebagai produk premium.

Konsep quiet luxury tidak bertumpu pada logo besar, melainkan pada kualitas bahan, perincian pengerjaan, dan eksklusivitas produk.

Di sinilah letak keunikannya. Gaya sederhana tetap dapat menjadi simbol status, tetapi hanya terbaca oleh lingkaran tertentu. Dengan kata lain, tidak semua orang perlu mengetahuinya, cukup mereka nan memahami 'bahasa' tersebut.

4. Terlalu mencolok bisa dianggap berlebihan

Di sejumlah lingkungan sosial, tampil terlalu mencolok justru dapat menimbulkan kesan kurang tepat. Terlebih di lingkungan ahli alias kalangan elite tertentu, style nan terlalu pamer kerap dipandang berlebihan.

Mengutip The Wall Street Journal, style berpakaian nan konservatif dan tidak mencolok sering dikaitkan dengan kredibilitas profesional. Sebaliknya, logo besar, aksesori berlebihan, alias busana nan terlalu mencuri perhatian bisa dianggap kurang sesuai.

Karena itu, busana sederhana sering kali bukan tanda seseorang tidak peduli penampilan. Justru sebaliknya, pilihan tersebut dapat mencerminkan kematangan, profesionalisme, dan keahlian membaca situasi.

5. Ada aspek keamanan

Pilihan berpakaian sederhana juga dapat berangkaian dengan rasa aman. Barang nan terlalu mencolok berpotensi membikin seseorang lebih mudah menjadi sasaran tindak kriminal, terutama di ruang publik.

Mengutip MarketWatch, di tengah ketimpangan ekonomi, meningkatnya kekhawatiran terhadap kriminalitas, serta budaya pamer di media sosial, sebagian orang memilih mengurangi penggunaan perhiasan alias peralatan mewah nan terlalu mencolok saat berada di tempat umum.

Selain itu, tampil terlalu mewah juga dapat dianggap kurang sensitif dalam situasi tertentu. Gaya nan lebih sederhana membikin seseorang tetap nyaman tanpa terkesan memamerkan kekayaan.

6. Lebih mengutamakan kualitas daripada perhatian

Bagi orang nan mempunyai banyak pilihan, busana sering kali bukan lagi soal menarik perhatian. Mereka condong lebih konsentrasi pada kenyamanan, kualitas bahan, daya tahan, serta eksklusivitas produk.

Karena itu, orang kaya nan terlihat sederhana bukan berfaedah tidak peduli pada fesyen. Bisa jadi mereka justru sangat memahami apa nan dikenakan, tetapi tidak merasa perlu menunjukkannya secara terang-terangan.

(anm/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-lifestyle