Jakarta -
Ekonomi Vietnam tumbuh 7,83% pada kuartal I-2026 di tengah kenaikan biaya daya dan inflasi. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kuartal IV-2025 nan mencapai 8,46%.
"Tekanan dari kenaikan biaya nilai daya terhadap inflasi menimbulkan tantangan bagi tata kelola ekonomi," kata Direktur Kantor Statistik Nasional (NSO) Vietnam, Nguyen Thi Huong dikutip dari Reuters, Minggu (5/4/2026).
Harga konsumen naik 4,65% pada Maret 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh lonjakan biaya transportasi 10,81% alias meningkat dari kenaikan 3,35% pada Februari 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memasuki kuartal kedua, situasi sosial-ekonomi Vietnam terus menghadapi halangan dan memenuhi sasaran pertumbuhan 2026 menjadi tantangan besar," ujar Thi Huong.
Kenaikan nilai bahan bakar minyak (BBM) telah mendorong maskapai penerbangan Vietnam untuk mengurangi operasi. Sementara pemerintah memangkas biaya dengan mengurangi pajak BBM, mensubsidi nilai dan mendorong kerja jarak jauh untuk mengurangi konsumsi.
Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mendorong kenaikan nilai BBM sebesar 21% dan nilai solar sebesar 84% di Vietnam. Para pejabat senior telah mencari sumber minyak pengganti dari pemasok seperti negara-negara Teluk, Jepang dan Korea Selatan.
Impor Vietnam pada Maret 2026 naik 27,8% menjadi US$ 47,11 miliar, dengan defisit perdagangan bulanan sebesar US$ 670 juta. Arus masuk investasi asing pada kuartal I-2026 naik 9,1% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi US$ 5,41 miliar.
Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh mengatakan pihaknya bakal mempertahankan sasaran pertumbuhan ekonomi 10% tahun ini meskipun menghadapi tantangan. Langkah-langkah dijanjikan seperti peningkatan investasi publik dan diversifikasi pasar ekspor serta rantai pasokan.
"Negara kita tetap menghadapi keterbatasan, kekurangan dan banyak kesulitan nan mengenai dengan tekanan manajemen ekonomi makro dan memastikan keamanan energi," kata Chinh dalam rapat kabinet.
(acd/acd)
4 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·