Dunia Panas Membara, Kenapa Cuaca Semakin Gila?

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Para intelektual terkemuka menyatakan keprihatinan bumi imbas pemanasan global dan krisis iklim.

Lebih dari 70 intelektual termasuk kontributor Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyampaikan kekhawatiran tersebut dalam studi tahunan Indikator Perubahan Iklim Global.

"Indikator-indikator ini mewakili pemantauan krusial terhadap kondisi vital pasien nan menunjukkan indikasi nan semakin mengkhawatirkan," kata , salah satu penulis dan guru besar pengetahuan permukaan bumi bentuk di Universitas Maynooth, Irlandia, Peter Thorne, dikutip AFP, Kamis (11/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua itu berjuntai pada serangkaian keahlian pengamatan dunia yang, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, secara sistematis mengalami degradasi aktif alias berisiko," imbuh dia.

Indikator Perubahan Iklim Global memberikan pembaruan tahunan bagi para kreator kebijakan soal keadaan Bumi seiring percepatan perubahan iklim. Penilaian IPCC terakhir diselesaikan pada 2023 dan nan berikutnya dijadwalkan pada 2028 alias 2029.

Laporan parameter tahunan ini berjuntai pada sekitar 40 kumpulan info dunia nan berasal dari satelit dan beragam instrumen darat, laut, dan udara, termasuk stasiun cuaca, kapal, pelampung, dan balon cuaca.

Dalam laporan Indikator Perubahan Iklim Global disebutkan bahwa suhu dunia mencapai sekitar 1,39 Celsius di atas tingkat pra-industri pada 2025, dengan nyaris seluruh pemanasan tersebut, 1,37 Celsius, disebabkan aktivitas manusia.

Para intelektual memperingatkan pemanasan dunia akibat aktivitas manusia bakal mencapai 1,5 derajat Celsius sekitar tahun 2030.

Dalam perjanjian suasana Paris 2015, negara-negara sepakat untuk membatasi pemanasan dunia hingga jauh di bawah 2 derajat Celsius untuk menghindari akibat terburuk dari perubahan iklim.

Namun, studi itu menemukan bumi mengakumulasi panas dengan kecepatan nan pesat. Ini memperburuk "ketidakseimbangan daya Bumi" ialah laju daya nan masuk dan keluar dari planet.

Penulis utama studi tersebut sekaligus guru besar perubahan suasana bentuk di Universitas Leeds di Inggris, Piers Forster, mengatakan tanpa pengaruh manusia semestinya tingkat pemanasan dunia mendekati nol.

"Tetapi nomor tersebut terus meningkat sejak tahun 1970-an dan sekarang berada di rekor tertinggi, berlipat dobel dalam beberapa dasawarsa terakhir," kata dia.

Tingkat pemanasan nan tinggi disebabkan kombinasi emisi gas rumah kaca nan mencapai titik tertinggi sepanjang masa dan pengurangan polusi aerosol, nan melemahkan pengaruh pendinginan lantaran partikel-partikel ini memantulkan sinar matahari.

Namun, emisi CO2 tetap menjadi pendorong utama pemanasan dunia dan berada di tingkat tertinggi sepanjang sejarah.

"Mengingat emisi gas rumah kaca tetap terus meningkat, menjaga pemanasan dunia di bawah periode pemisah (1,5 Celsius) ini sekarang tampaknya tidak mungkin tercapai," kata intelektual suasana di jasa meteorologi Prancis, Aurelien Ribes.

Imbas pemanasan dunia pula, permukaan laut naik sekitar 23 cm antara tahun 1901 dan 2025. Kenaikan ini semakin cepat, ialah 3,84 mm per tahun, akibat pencairan es di daratan dan ekspansi termal seiring pemanasan laut.

(isa/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional