Dokter Paru Beberkan Bahaya Gas Co, Tewaskan Satu Keluarga Saat Glamping Di Temanggung

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Jakarta -

Tragedi kematian satu family mahasiswa UGM di dalam tenda saat kamping di Taman Wisata Alam Posong, Temanggung, pada Mei 2026 akhirnya terungkap. Berdasarkan kajian scientific crime investigation (SCI) oleh Bid Dokkes Polda Jawa Tengah, para korban dinyatakan meninggal bumi akibat keracunan gas karbon monoksida (CO).

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP, menjelaskan secara medis kenapa gas CO bisa sangat fatal dan menyebabkan kematian dalam waktu singkat tanpa disadari oleh korbannya.

Karbon monoksida (CO) adalah gas berbisa nan tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna sehingga sering disebut sebagai silent killer. Gas ini rawan lantaran mengikat hemoglobin dalam darah jauh lebih kuat daripada oksigen, sehingga organ-organ vital seperti otak dan jantung mengalami kekurangan pasokan oksigen dengan cepat

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"CO ini punya keahlian untuk mengingat hemoglobin lebih kuat daripada oksigen. Artinya jika ada CO masuk, ada oksigen masuk maka CO nan pinter nan bisa mengingatkan dirinya ke hemoglobin. Artinya nan diedarkan ke seluruh tubuh tidak ada oksigennya," urai Prof Tjandra saat dihubungi detikcom, Selasa (16/6/2026).

"Karena oksigennya tidak bisa masuk, dari kepala sampai kaki tidak mendapatkan oksigen, akhirnya bisa menimbulkan kejadian-kejadian nan kerusakan sel sampai menimbulkan kematian," sambung dia.

Gas CO mempunyai keahlian 'membajak' aliran darah lantaran daya ikatnya jauh lebih kuat dibandingkan oksigen. Akibatnya, seluruh jaringan tubuh dari kepala hingga kaki mengalami kelaparan oksigen ekstrem, dimulai dari kondisi hipoksia hingga menjadi asfiksia (gagal napas total) nan memicu kerusakan sel permanen dan kematian.


Kenapa Korban Bisa Tidak Terbangun?

Prof Tjandra memaparkan bahwa keracunan gas CO sering kali terjadi ketika korban tengah beristirahat alias tidur, sehingga refleks pertahanan tubuh tidak aktif. Sifat CO juga disebut sebagai 'silent killer' lantaran sering kali pasien tidak merasakan dirinya telah keracunan unsur tersebut.

"Yang kejadian di glamping alias di mobil itu biasanya orangnya istirahat. Jadi pada waktu awal memang dia tidak begitu terasa, tapi sembari rehat itu, sembari kemasukan CO sedikit demi sedikit, orangnya tertidur. Sehingga tidak terasa dia tetap menghisap CO nan akhirnya memicu kefatalan," ucapnya.

Kombinasi antara pengaruh kantuk akibat kekurangan oksigen dan kondisi tubuh nan memang sedang tidur membikin korban langsung tergelincir dari fase mengantuk ringan menuju koma, hingga akhirnya meninggal dunia.

Simak Video "Video: Keluhan 'Red Flag' Saraf Kejepit, Wajib Periksa Jika Mengalami"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)

Sumber detik-health