Dinginnya Es Krim Goreng Lumora: Buah Manis Perjuangan Dari Kamar Kos

Sedang Trending 23 jam yang lalu

Matahari di atas langit Palangka Raya siang itu, Minggu (3/5), terasa begitu menyengat. Di sela hiruk-pikuk di Jalan Beliang, tepat di dekat Apotek Sehat Insani, sebuah aroma wangi dan sensasi dingin nan kontras memanggil siapa saja nan melintas. Di sanalah Lumora Es Krim Goreng berdiri, menawarkan sensasi mini bagi penduduk nan tengah kegerahan.

JEFRI – PALANGKA RAYA

NAMUN, di kembali sejuknya es krim nan lumer di mulut itu, rupanya ada kisah “panas” tentang perjuangan seorang wanita muda berjulukan Ayu Pandiangan. Siapa sangka, upaya nan sekarang menempati ruko sendiri ini, berasal dari ruang sempit di sebuah bilik kos. Ayu mengenang kembali masa-masa kuliahnya, di mana dia kudu berkutat dengan boks catering untuk menyambung hidup.

“Prosesnya sekitar lima tahun. Mulanya hanya katering rumahan di kos, lampau pelan-pelan berani buka stand di beragam acara, sampai akhirnya seminggu lampau bisa buka permanen di sini,” kenang Ayu dengan sinar mata penuh syukur.

Ide menjual es krim goreng sendiri datang dari sang adik. Di saat banyak kuliner kekinian datang dan pergi, Ayu justru memilih memperkuat dengan menu klasik nan sekarang mulai langka ditemukan di Palangka Raya.

Daya tarik utama Lumora tentu saja es krim gorengnya. Bayangkan lapisan roti nan digoreng hingga golden brown dan renyah, namun saat digigit, lidah kita disambut oleh es krim dingin nan lembut. Ada tiga jenis rasa favorit: cokelat, stroberi, dan vanila.

Harganya pun sangat berkawan untuk kantong mahasiswa maupun keluarga. Cukup dengan Rp12 ribu, satu porsi es krim goreng sudah bisa dinikmati. Bahkan bagi nan datang berbareng teman, ada promo spesial Rp20 ribu untuk dua porsi.

Electronic money exchangers listing

Tak hanya itu, aroma pisang lumer dengan beragam topping, mulai dari green tea hingga tiramisu, serta gurihnya risol mayo turut melengkapi daftar menu nan menggoda selera di ruko ini.

Ayu sadar bahwa di era sekarang, kelezatan rasa kudu dibarengi dengan jempol nan lincah di layar ponsel. Tantangan mencari tenaga kerja dan memperluas pasar dia jawab lewat produktivitas di bumi maya.

“Sekitar 70 persen pengguna kami justru datang lantaran memandang konten di IG dan TikTok,” ungkapnya saat disambangi Prokalteng.co, Minggu (3/5).

Hal ini membuktikan bahwa strategi digitalnya sukses menarik minat anak muda hingga para orang tua nan mau memberikan camilan spesial untuk buah hati mereka. Buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB, Lumora sekarang bukan sekadar tempat jualan, melainkan bukti nyata dari sebuah ketekunan. Dari sekadar pesanan boks di bilik kos, sekarang Ayu punya mimpi nan lebih besar.

“Harapannya, Lumora bisa terus besar dan dikenal luas,” tutup Ayu sembari melayani pengguna dengan ramah.

Bagi penduduk Palangka Raya nan mau mencari pelarian dari cuaca terik, Lumora mungkin adalah jawabannya. Sebuah pemberhentian manis nan membuktikan bahwa angan nan digoreng dengan ketekunan, bakal berhujung lezat pada waktunya. (*)

Matahari di atas langit Palangka Raya siang itu, Minggu (3/5), terasa begitu menyengat. Di sela hiruk-pikuk di Jalan Beliang, tepat di dekat Apotek Sehat Insani, sebuah aroma wangi dan sensasi dingin nan kontras memanggil siapa saja nan melintas. Di sanalah Lumora Es Krim Goreng berdiri, menawarkan sensasi mini bagi penduduk nan tengah kegerahan.

JEFRI – PALANGKA RAYA

NAMUN, di kembali sejuknya es krim nan lumer di mulut itu, rupanya ada kisah “panas” tentang perjuangan seorang wanita muda berjulukan Ayu Pandiangan. Siapa sangka, upaya nan sekarang menempati ruko sendiri ini, berasal dari ruang sempit di sebuah bilik kos. Ayu mengenang kembali masa-masa kuliahnya, di mana dia kudu berkutat dengan boks catering untuk menyambung hidup.

Electronic money exchangers listing

“Prosesnya sekitar lima tahun. Mulanya hanya katering rumahan di kos, lampau pelan-pelan berani buka stand di beragam acara, sampai akhirnya seminggu lampau bisa buka permanen di sini,” kenang Ayu dengan sinar mata penuh syukur.

Ide menjual es krim goreng sendiri datang dari sang adik. Di saat banyak kuliner kekinian datang dan pergi, Ayu justru memilih memperkuat dengan menu klasik nan sekarang mulai langka ditemukan di Palangka Raya.

Daya tarik utama Lumora tentu saja es krim gorengnya. Bayangkan lapisan roti nan digoreng hingga golden brown dan renyah, namun saat digigit, lidah kita disambut oleh es krim dingin nan lembut. Ada tiga jenis rasa favorit: cokelat, stroberi, dan vanila.

Harganya pun sangat berkawan untuk kantong mahasiswa maupun keluarga. Cukup dengan Rp12 ribu, satu porsi es krim goreng sudah bisa dinikmati. Bahkan bagi nan datang berbareng teman, ada promo spesial Rp20 ribu untuk dua porsi.

Tak hanya itu, aroma pisang lumer dengan beragam topping, mulai dari green tea hingga tiramisu, serta gurihnya risol mayo turut melengkapi daftar menu nan menggoda selera di ruko ini.

Ayu sadar bahwa di era sekarang, kelezatan rasa kudu dibarengi dengan jempol nan lincah di layar ponsel. Tantangan mencari tenaga kerja dan memperluas pasar dia jawab lewat produktivitas di bumi maya.

“Sekitar 70 persen pengguna kami justru datang lantaran memandang konten di IG dan TikTok,” ungkapnya saat disambangi Prokalteng.co, Minggu (3/5).

Hal ini membuktikan bahwa strategi digitalnya sukses menarik minat anak muda hingga para orang tua nan mau memberikan camilan spesial untuk buah hati mereka. Buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB, Lumora sekarang bukan sekadar tempat jualan, melainkan bukti nyata dari sebuah ketekunan. Dari sekadar pesanan boks di bilik kos, sekarang Ayu punya mimpi nan lebih besar.

“Harapannya, Lumora bisa terus besar dan dikenal luas,” tutup Ayu sembari melayani pengguna dengan ramah.

Bagi penduduk Palangka Raya nan mau mencari pelarian dari cuaca terik, Lumora mungkin adalah jawabannya. Sebuah pemberhentian manis nan membuktikan bahwa angan nan digoreng dengan ketekunan, bakal berhujung lezat pada waktunya. (*)

Sumber prokalteng