anm | CNN Indonesia
Sabtu, 06 Jun 2026 15:25 WIB
Ilustrasi. Capsule wardrobe tak kudu dibangun dari nol dan butuh biaya banyak, bisa dimulai dari memanfaatkan isi lemari baju. (Istockphoto/kupicoo)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sustainable fashion memang sering terdengar mahal. Baju berbahan organik, jenama slow fashion, sampai busana eco-friendly kerap dijual dengan nilai nan jauh lebih tinggi dibanding produk fast fashion.
Tidak heran jika banyak orang akhirnya menganggap style hidup berpakaian nan lebih sadar lingkungan hanya cocok untuk orang dengan bujet besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi belakangan muncul dugaan bahwa membangun capsule wardrobe berfaedah kudu membeli blazer mahal, basic top premium, alias outfit netral baru agar terlihat rapi dan timeless. Padahal, konsep capsule wardrobe sebenarnya tidak dimulai dari belanja.
Influencer conscious fashion, Cempaka Asriani menyampaikan, inti capsule wardrobe justru bukan membeli banyak busana baru, melainkan mengenali isi lemari sendiri terlebih dahulu.
"Banyak nan kayak misalnya, 'Oh kak saya mau pakai capsule wardrobe, kira-kira saya kudu beli apa, ya?' Enggak gitu. Konsepnya adalah kita tuh nge-audit lemari kita sendiri," kata Cempaka kepada CNNIndonesia.com, Kamis (21/5).
Capsule wardrobe tidak kudu mahal
Menurut Cempaka, busana nan lebih awet tidak selalu kudu datang dari jenama premium alias sustainable dengan nilai tinggi.
"Bukan kayak, 'Oh jika saya beli baju lebih mahal berfaedah dia bakal memperkuat lebih lama'. Sebenarnya bukan itu," ucapnya.
Menurut pemilik akun IG @casriani ini, titik awal capsule wardrobe justru ada pada pemahaman terhadap style individual sendiri. Ketika seseorang memahami busana nan betul-betul sesuai dengan style hidup dan kebutuhannya, busana itu condong lebih sering dipakai dan memperkuat lebih lama.
Cempaka mencontohkan dirinya nan memang lebih sering memakai kaus dalam keseharian. Setelah berhijab, dia mulai membeli kaus lengan panjang dari merek lokal dengan nilai sekitar Rp70 ribu per potong.
"Harganya kan bisa dibilang murah lah ya, Rp70 ribu kaos gitu, ya. Tapi jadi sering dipakai lantaran itu fit my individual style," katanya.
Capsule wardrobe tidak selalu kudu dibangun dengan membeli item mahal satu per satu. Justru, busana nan paling sustainable sering kali adalah busana nan sudah dimiliki.
Kalaupun kudu membeli baru, dia menyarankan memilih busana nan memang sesuai kebutuhan dan tetap masuk ke dalam keahlian finansial masing-masing.
Tidak dianjurkan dibangun sekaligus
Pandangan bahwa capsule wardrobe kudu dibangun dari nol juga sebenarnya bertentangan dengan prinsip conscious consumption itu sendiri.
Menurut sebuah studi tentang capsule wardrobe oleh José Magano dalam Journal of Sustainability Research (2025), capsule wardrobe lahir sebagai respons terhadap fast fashion dan konsumsi berlebihan.
Oleh lantaran itu, konsentrasi utamanya membeli lebih sedikit, memakai lebih lama, dan memilih busana nan versatile, bukan mengganti seluruh isi lemari sekaligus.
Konsep serupa juga muncul dalam buyarchy of needs, pendapat sustainable fashion nan dipopulerkan ilustrator Sarah Lazarovic lewat bukunya A Bunch of Pretty Things I Did Not Buy (2014).
Konsep ini membujuk orang untuk memikirkan ulang kebutuhan sebelum membeli peralatan baru. Urutannya sederhana:
- gunakan nan sudah ada,
- pinjam,
- tukar,
- beli peralatan bekas,
- buat sendiri,
- membeli peralatan baru menjadi pilihan terakhir.
Jadi, membeli busana baru semestinya bukan langkah pertama dalam membangun capsule wardrobe.
"Mindset-nya tuh bukan mengganti baju ke brand-brand sustainable. Jadi, maksudnya ya pakai nan ada aja," kata Cempaka.
Menurutnya, membeli busana baru dilakukan ketika memang diperlukan, misalnya busana lama sudah rusak, ukurannya tidak lagi sesuai, alias kebutuhan hidup berubah.
Baca laman selanjutnya...
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·