CNN Indonesia
Sabtu, 06 Jun 2026 13:20 WIB
Ilustrasi. Ada beberapa tanda orang tua overprotective nan perlu diketahui. (Istockphoto/ SDI Productions)
Jakarta, CNN Indonesia --
Orang tua nan merasa cemas pada si mini sebenarnya wajar. Tapi, jangan sampai kekhawatiran membikin Anda menjadi orang tua nan overprotective.
Kenali tanda-tanda orang tua overprotective berikut ini agar tak sampai kebablasan dan berakibat negatif terhadap anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Overprotective sendiri didefinisikan sebagai sikap orang tua nan terlalu melindungi anak. Sikap ini biasanya muncul dengan kontrol berlebih dan banyak batas nan ditetapkan orang tua.
"Pola pengasuhan nan terlalu protektif biasanya didorong oleh kekhawatiran orang tua. Hal itu berakar dari kemauan untuk mencegah anak mendapatkan pengalaman buruk," ujar psikolog klinis Maura Francis, mengutip Parents.
Perkembangan teknologi, seperti kehadiran media sosial, menurut Francis, memperburuk sikap protektif orang tua.
Padahal, menurut mahir ilmu jiwa dari Baylor College of Medicine, Profesor Eric Storch, mengalami suka dan duka kehidupan menjadi salah satu langkah utama agar anak bisa berkembang.
"Suka duka kehidupan juga mengembangkan keahlian anak dalam memecahkan masalah dan mengatasi kesulitan," ujar Storch.
Tanda orang tua terlalu protektif
Setidaknya, ada beberapa tanda orang tua terlalu protektif. Orang tua perlu tahu untuk bisa mencegah akibat buruknya pada anak. Berikut di antaranya, mengutip laman Narrative Pathways.
1. Menyelesaikan semua masalah anak
Saat anak mengalami kesulitan, orang tua nan terlalu protektif bakal ikut nimbrung. Bukan hanya membantu memberikan pendapat, tapi juga mengambil kendali untuk membantu menyelesaikan masalah. Hal ini dilakukan untuk memastikan anak terhindar dari rasa tidak nyaman.
2. Sering berkomunikasi dengan pihak sekolah
Alih-alih membimbing anak tentang langkah mengatasi suatu masalah, orang tua nan terlalu protektif bakal lebih sering menghubungi pembimbing dan pihak sekolah lainnya untuk menyelesaikan masalah.
3. Melakukan segala langkah agar anak sukses
Hal ini sebenarnya wajar dilakukan orang tua. Tapi, membiarkan jalan kesuksesan anak terlalu mulus tanpa hambatan juga tak selalu berakibat baik.
Padahal, anak semestinya bisa belajar dari kegagalan.
4. Terlalu bersimpati saat anak bermasalah
Membuat anak berani menceritakan masalahnya sebenarnya sudah bagus. Hanya saja, bukan berfaedah orang tua kudu terlalu bersimpati terhadap kesedihan anak.
Anak-anak perlu belajar menghadapi kesedihan dan kemarahan. Jangan terlalu bersimpati, tapi bantu anak untuk belajar menerima dan mengatasi situasi sulit.
5. Mengatur lingkungan sosial anak
Pertemanan bakal sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Anak semestinya bisa berkawan dengan siapa saja. Hanya saja, orang tua nan terlalu protektif condong mengontrol pertemanan anak.
Orang tua bakal melarang anak berbaur dengan anak-anak lain nan dianggap 'tidak pantas'.
6. Terlalu banyak bicara
Orang tua nan terlalu protektif selalu cemas tentang kesejahteraan anak. Akibatnya, mereka bisa berbincang tanpa henti pada anak dan pihak-pihak lain untuk memastikan buah hatinya baik-baik saja.
7. Ikut campur
Ilustrasi. Ada beberapa tanda orang tua overprotective. (iStock/imtmphoto)
Karena terlalu khawatir, orang tua nan terlalu protektif biasanya selalu mau tahu segala sesuatu nan terjadi pada anak. Mereka tidak bisa menghormati kewenangan anak untuk mempunyai bumi jiwa dan privasinya sendiri.
8. Mencegah anak mengambil risiko
Orang tua nan terlalu protektif melakukan upaya luar biasa untuk melindungi anak dari ancaman bentuk alias pengalaman emosional nan tidak nyaman.
Hal tersebut membikin anak hanya mengambil sedikit risiko. Pasalnya, orang tua bakal selalu mau buah hatinya merasa nyaman.
Bahaya orang tua terlalu protektif
Sejumlah studi telah menemukan akibat jelek overprotective pada anak. Misalnya, pola asuh nan overprotective berpotensi membikin anak ketergantungan dan merusak nilai diri anak.
Tak hanya itu, studi nan dipublikasikan dalam jurnal Child Development juga menemukan, overprotective membikin suasana hati anak, utamanya nan berumur remaja, semakin memburuk.
"Overprotective dapat menyebabkan orang tua lebih banyak ikut kombinasi daripada apa nan dibutuhkan anak, sehingga berisiko menimbulkan frustrasi terhadap kebutuhan psikologis dasar remaja," catat studi tersebut.
Dalam praktiknya, perihal ini sering kali berubah menjadi 'rebutan kontrol' antara orang tua nan cemas dan anak remaja nan sedang membangun kemandiriannya.
Studi sebelumnya juga melaporkan perihal serupa. Studi pada 2023 lampau menemukan, remaja dengan pola asuh overprotective mengalami lebih banyak kesulitan emosional dan perilaku antisosial. Sikap protektif orang tua juga ditemukan berakibat pada prestasi akademik nan memburuk.
(asr)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·