Bmkg Sebut El Nino Kuat Bakal Bertahan Sampai 2027, Bisa Begini Efeknya

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim tandus 2026 bakal berjalan lebih kering dan panjang dibandingkan kondisi normal.

Diprediksi, puncak musim tandus bakal terjadi pada Juli hingga September 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia. Di saat nan sama, kejadian El Nino diperkirakan tetap memperkuat hingga awal 2027, dengan kesempatan mencapai kategori moderat hingga kuat.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan akibat kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran rimba dan lahan di sejumlah daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari postingan IG resmi BMKG pada Kamis (18/6/2026), disebutkan bahwa puncak musim tandus di Indonesia diperkirakan berjalan secara bertahap. Mulai dari bulan Juli hingga September 2026.

Wilayah nan Terdampak Efek El Nino

Pada Juli 2026, puncak tandus diprediksi terjadi di 83 area musim (ZOM) alias sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia.

Wilayah tersebut meliputi sebagian Sumatera, sebagian mini Kalimantan dan Jawa, NTT bagian selatan, Sulawesi Barat, sebagian Sulawesi Tengah, hingga beberapa wilayah di Maluku dan Papua.

Memasuki Agustus 2026, puncak tandus diperkirakan meluas dan mencapai 369 ZOM alias 48,84 persen wilayah Indonesia. Hal ini berakibat ke sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTB, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagaian besar Pulau Papua.

Sementara pada September 2026, puncak tandus diperkirakan terjadi di 169 ZOM alias sekitar 25,41 persen wilayah Indonesia. Wilayah nan terdampak seperti Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, sebagian NTT, Kalimantan bagian selatan, Maluku Utara, dan Papua Pegunungan.

El Nino Diprediksi Bertahan hingga 2027

BMKG juga memprediksi kejadian El Nino tetap bakal memperkuat hingga awal tahun 2027 berasas kalkulasi nan dilakukan pada awal Juni 2026. Peluang El Nino mencapai kategori moderat tercatat sebesar 98 persen.

Sementara kesempatan mencapai kategori kuat mencapai 62 persen. Meski demikian, BMKG menjelaskan akibat langsung El Nino terhadap wilayah Indonesia diperkirakan hanya berjalan sepanjang musim tandus hingga Oktober 2026.

Fenomena El Nino umumnya ditandai dengan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia sehingga berpotensi meningkatkan akibat kekeringan, gangguan sektor pertanian, serta kebakaran rimba dan lahan.

BMKG meminta antisipasi dilakukan sejak awal BMKG mengingatkan seluruh masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi guna menekan akibat kerugian akibat musim tandus dan El Nino. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan beragam pihak untuk memastikan langkah mitigasi dan penyesuaian melangkah optimal.

"BMKG secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemangku kepentingan di tingkat daerah, seperti pemerintah wilayah (pemda)," ujar Faisal, dikutip dari unggahan akun IG BMKG.

"Forkopimda, BPBD, dan pihak nan memerlukan info nan lebih perincian dan gimana langkah memitigasi serta beradaptasi mengenai dengan kondisi suasana nan terjadi saat ini," sambungnya.

Rekomendasi BMKG untuk hadapi akibat El Nino BMKG juga memberikan sejumlah rekomendasi bagi beragam sektor untuk menghadapi potensi akibat El Nino selama musim tandus 2026. Salah satunnya pada sektor kesehatan.

Pemerintah wilayah diminta menyiapkan respons sigap untuk mengantisipasi peningkatan polusi udara nan berpotensi memicu kasus jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA).

(sao/naf)

Sumber detik-health