Jakarta, CNN Indonesia --
Perang Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran telah mengakibatkan pelayaran kapal-kapal komersial beragam negara tersendat, apalagi menjadi korban serangan dalam bentrok Timur Tengah.
Kapal-kapal ini utamanya terblokir di Selat Hormuz, nan secara efektif ditutup dan dibatasi Teheran usai diserang AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Al Jazeera merangkum info pencarian kapal dari Kpler untuk mengetahui jumlah kapal nan sukses melintas dan nan diserang selama bentrok ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan info tersebut, total ada 279 kapal nan sukses melintasi Selat Hormuz selama rentang 28 Februari hingga 12 April. Jumlah ini jauh di bawah rata-rata sebelum perang, ialah sekitar 100 kapal per hari.
Sejak gencatan senjata bertindak pada 8 April, jumlah kapal nan kondusif melintas juga hanya 45 kapal. Ratusan tanker dan kapal lainnya tetap terdampar di Teluk sehingga mengurangi pasokan minyak dan gas dunia.
Kemudian, mengenai jumlah kapal nan diserang, Kpler mencatat bahwa setidaknya 22 kapal menjadi korban hantaman di beragam perairan teritorial sejumlah negara.
Rinciannya, delapan kapal diserang di perairan Uni Emirat Arab (UEA), enam kapal di perairan Oman, dua kapal di perairan Irak, dua kapal di perairan Qatar, dan masing-masing satu di perairan Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Iran.
Sebanyak 22 kapal itu sendiri antara lain Skylight, Mkd Vyom, Hercules Star, Stena Imperative, Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, Sonangol Namibe, Mussafah 2, Arabia Iii, One Majesty, Mayuree Naree, Star Gwyneth, Safesea Vishnu, Zefyros, Source Blessing, Gas Al Ahmadiah, Halul 50, Sunny 77, Al Salmi, Aqua 1, dan Qingdao Star.
Puluhan kapal ini berasal dari negara-negara Teluk, Pasifik, Afrika, Asia Timur, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara seperti Thailand.
Selain mengganggu lampau lintas kapal, perang AS-Israel vs Iran juga merusak akomodasi produksi daya di Teluk dan melonjakkan nilai minyak bumi sekitar 50 persen sejak awal pertempuran. Akibatnya, beragam negara sekarang mengalami krisis energi.
Per Senin (13/4), Komando Pusat AS (CENTCOM), nan bertanggung jawab atas operasi militer di Timur Tengah, ikut memblokir Selat Hormuz usai diperintah Presiden AS Donald Trump buntut mandeknya negosiasi tenteram dengan Iran.
CENTCOM menyatakan pasukannya sudah memberlakukan blokade tersebut sejak pukul 10.00 pagi ET dan tak ada kapal nan sukses melintas dari dan ke pelabuhan Iran.
Kendati begitu, CENTCOM memastikan blokade ini hanya bertindak untuk kapal-kapal nan menuju dan dari pelabuhan Iran. AS sendiri menyatakan blokade ditujukan menekan Iran kembali ke meja perundingan.
Seiring dengan itu, Al Jazeera mencatat setidaknya tiga kapal tanker sukses memasuki Teluk melalui Selat Hormuz pada Selasa (14/4). Kapal tersebut ialah Peace Gulf berbendera Panama nan menuju UEA, dan Rich Starry serta Elpis.
Peace Gulf sukses melintas lantaran menggunakan rute pengganti dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) nan terletak di antara Pulau Larak dan Pulau Qeshm dekat daratan Iran.
Rute pengganti ini diberikan IRGC setelah AS-Iran sepakat gencatan senjata.
(blq/dna)
Add
as a preferred source on Google
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·