Benarkah Jahe Bisa Menurunkan Demam? Ini Penjelasannya

Sedang Trending 3 jam yang lalu

CNN Indonesia

Jumat, 26 Jun 2026 13:15 WIB

ilustrasi air jahe lemon Ilustrasi. Jahe punya banyak faedah untuk tubuh. (iStockphoto/fcafotodigital)

Jakarta, CNN Indonesia --

Saat demam alias tubuh mulai terasa tidak enak, wedang jahe hangat kerap menjadi jagoan rumahan untuk membantu tubuh terasa lebih nyaman. Sensasi hangat dari jahe membikin minuman ini sering dipercaya bisa meredakan flu, masuk angin, hingga demam ringan.

Namun, benarkah jahe bisa menurunkan demam? Atau sebenarnya hanya memberi pengaruh hangat sementara pada tubuh?

Sejumlah penelitian menunjukkan jahe memang berpotensi membantu meredakan demam ringan berkah pengaruh antiinflamasi nan dimilikinya. Meski demikian, jahe tetap tidak dapat menggantikan obat penurun panas maupun pemeriksaan medis, terutama jika demam tinggi berjalan lama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam studi berjudul Immunomodulatory and Anti-inflammatory Therapeutic Potential of Gingerols, jahe diketahui mengandung senyawa aktif seperti gingerol, shogaol, dan zingerone. Ketiga senyawa tersebut mempunyai pengaruh antiinflamasi, antioksidan, sekaligus membantu mengatur respons imun tubuh.

Gingerol disebut bekerja dengan menekan jalur inflamasi dalam tubuh dan membantu mengurangi produksi prostaglandin, ialah unsur nan berkedudukan meningkatkan suhu tubuh saat demam. Ketika proses peradangan berkurang, suhu tubuh pun dapat ikut menurun.

Penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran juga menemukan hasil serupa. Dalam penelitian tersebut, ekstrak jahe merah terbukti membantu menurunkan suhu tubuh tikus percobaan nan dibuat demam.

Peneliti menjelaskan pengaruh tersebut berangkaian dengan kandungan gingerol nan bisa menghalang sintesis prostaglandin sekaligus mengurangi peradangan.

Lalu, gimana jahe sebaiknya dikonsumsi?

Dalam beragam penelitian herbal maupun pengobatan tradisional, jahe lebih sering dikonsumsi dalam corak seduhan alias rebusan air hangat dibanding dimakan mentah secara langsung.

Saat dipanaskan, sebagian gingerol pada jahe segar berubah menjadi shogaol nan juga mempunyai pengaruh antiinflamasi cukup kuat. Karena itu, jahe paling sering diolah menjadi wedang jahe, teh jahe, alias dicampur dengan madu dan lemon.

Cara penyajiannya pun cukup sederhana, yakni:

• jahe digeprek alias diiris tipis,

• direbus alias diseduh dengan air panas selama beberapa menit,

• lampau diminum selagi hangat.

Selain kandungan aktifnya, minuman hangat juga membantu tubuh tetap terhidrasi dan memberi rasa nyaman saat demam alias flu. Campuran madu pun kerap digunakan lantaran dianggap membantu melegakan tenggorokan sekaligus membikin rasa jahe lebih mudah diterima.

Meski begitu, konsumsi jahe tetap tidak disarankan secara berlebihan. Studi Ginger on Human Health: A Comprehensive Systematic Review menyebut konsumsi jahe dalam jumlah terlalu banyak dapat memicu gangguan lambung, heartburn, mual, hingga diare pada sebagian orang.

Karena itu, jahe lebih tepat dijadikan pendamping untuk membantu meredakan indikasi ringan, bukan sebagai pengganti pengobatan utama.

Jika demam tinggi berjalan lama alias disertai sesak napas, muntah berat, penurunan kesadaran, maupun tanda jangkitan serius lainnya, pemeriksaan medis tetap diperlukan.

(anm/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-lifestyle