Awas, Studi Temukan Enggak Sarapan Bikin Kamu Gampang Cemas

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

CNN Indonesia

Rabu, 08 Apr 2026 11:15 WIB

Sejumlah penelitian menemukan, kebiasaan melewatkan sarapan membikin seseorang rentan terhadap emosi cemas, terutama pada remaja. Ilustrasi. Sejumlah penelitian menemukan, kebiasaan melewatkan sarapan membikin seseorang rentan terhadap emosi cemas, terutama pada remaja. (iStock/pixelfit)

Jakarta, CNN Indonesia --

Melewatkan sarapan sering kali dianggap perihal nan sepele. Apalagi di pagi hari nan serba terburu-buru, mulai dari bangun kesiangan, kudu berangkat cepat, alias memang belum merasa lapar. Akhirnya, sarapan jadi kebiasaan nan paling sering dilewatkan.

Dari perspektif pandang kesehatan, kebiasaan ini bukan hanya soal perut kosong. Sejumlah penelitian justru menemukan kaitan antara tidak sarapan dengan kondisi mental, terutama pada remaja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satunya berasal dari penelitian berjudul Association of Breakfast Consumption Frequency with Depression and Anxiety Symptoms Among School Students nan dilakukan pada pelajar di China Timur. Penelitian ini menunjukkan bahwa remaja nan jarang alias tidak sarapan mempunyai akibat lebih tinggi mengalami indikasi kekhawatiran dan depresi dibanding mereka nan rutin sarapan setiap hari.

Temuan ini bukan satu-satunya, dalam penelitian berjudul Breakfast Consumption and Mental Health juga menemukan pola nan sama. Kebiasaan melewatkan sarapan secara konsisten berangkaian dengan meningkatnya akibat gangguan mental pada remaja.

Secara angka, risikonya pun tidak kecil, remaja nan tidak sarapan bisa mempunyai kemungkinan lebih dari dua kali lipat mengalami indikasi depresi. Sementara untuk kecemasan, risikonya dilaporkan bisa meningkat hingga lebih dari 50 persen dibandingkan mereka nan rutin sarapan.

Mengapa sarapan berpengaruh pada suasana hati?

Penjelasannya berangkaian dengan langkah kerja otak. Salah satu aspek krusial adalah serotonin, ialah unsur kimia di otak nan berkedudukan menjaga suasana hati tetap stabil.

Serotonin terbentuk dari masam amino berjulukan triptofan. Agar triptofan bisa masuk ke otak, tubuh memerlukan support hormon insulin nan biasanya meningkat setelah kita makan, termasuk saat sarapan.

Ketika sarapan dilewatkan, kadar insulin tidak naik seperti seharusnya. Akibatnya, triptofan susah masuk ke otak dan produksi serotonin bisa terganggu. Dampaknya, otak jadi lebih susah menyetel suasana hati sejak pagi.

Di sinilah masalahnya, pagi hari adalah waktu krusial untuk memulai ritme tubuh. Kalau dari awal produksi serotonin sudah tidak optimal, seseorang bisa lebih mudah merasa cemas, stres, alias mood naik turun sepanjang hari.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, sarapan juga berkedudukan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi otak. Makanan seperti biji-bijian, telur, dan sayuran mengandung unsur gizi krusial nan mendukung kegunaan kognitif dan kesehatan mental.

Sebaliknya, melewatkan sarapan bisa membikin tubuh kekurangan daya dan nutrisi penting, nan dalam jangka panjang bisa berakibat pada konsentrasi hingga kestabilan emosi.

Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa hubungan ini tetap berkarakter keterkaitan (asosiasi), bukan sebab-akibat langsung. Artinya, tetap diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan sistem pastinya.

Setidaknya, temuan ini jadi pengingat sederhana bahwa sarapan bukan sekadar rutinitas, tapi juga bagian dari langkah tubuh dan otak dalam memulai hari dengan lebih seimbang.

(anm/asr)

Add as a preferred
source on Google
Sumber cnn-lifestyle