Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan memperluas blokade maritim hingga ke beragam wilayah dunia. Kebijakan ini menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan antara kedua negara, di tengah upaya diplomatik nan belum menunjukkan titik terang.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa blokade nan sebelumnya berfokus di area Timur Tengah sekarang diperluas secara global.
"Blokade kami semakin meluas dan menjadi global," ujarnya kepada wartawan di Washington, Jumat (24/4), seperti dikutip dari Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan, tidak ada kapal nan dapat berlayar dari Selat Hormuz menuju wilayah mana pun di bumi tanpa pengawasan Angkatan Laut AS. Pernyataan ini menggarisbawahi kekuasaan militer Washington dalam jalur pelayaran strategis tersebut.
Di sisi lain, kesempatan jalur diplomasi tetap terbuka. Sejumlah sumber menyebut bahwa pembicaraan tenteram antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi kembali digelar dalam waktu dekat di Pakistan, setelah perundingan sebelumnya kandas terlaksana pekan ini.
Berdampingan dengan Jenderal senior AS, Dan Caine, Hegseth menegaskan Washington tidak terburu-buru mencapai kesepakatan. Ia mengulang pernyataan Presiden Donald Trump bahwa AS mempunyai "banyak waktu" dalam menghadapi Iran.
"Iran tahu bahwa mereka tetap mempunyai kesempatan untuk memilih dengan bijak di meja perundingan. Mereka hanya perlu meninggalkan ambisi senjata nuklir secara nyata dan terverifikasi," kata Hegseth.
Sementara itu, Komando Pusat AS alias US Central Command terus memperketat pengawasan terhadap aktivitas maritim Iran. Hingga Jumat pagi, sebanyak 34 kapal dilaporkan telah dipaksa berbalik arah.
Militer AS juga disebut bakal terus mencegat kapal-kapal nan mengenai Iran, baik di Samudra Pasifik maupun Samudra Hindia. Kebijakan ini bertindak terhadap kapal dari beragam negara nan menuju alias berasal dari pelabuhan Iran.
"Kami menegakkan blokade terhadap kapal dari semua negara nan berlayar ke alias dari wilayah Iran," ujar Caine.
Ia menambahkan, pihaknya juga terus memantau kapal-kapal nan berada di luar area blokade saat kebijakan tersebut mulai diberlakukan, dan siap melakukan intersepsi jika diperlukan.
Blokade laut AS terhadap Iran sendiri telah dimulai sejak 13 April lalu. Ketegangan semakin meningkat setelah Washington memperingatkan Teheran agar tidak menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz, nan dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Hegseth menyebut lampau lintas di selat tersebut tetap berlangsung, meski jauh lebih terbatas dan berisiko tinggi. Ia menuding Iran melakukan tindakan tidak bertanggung jawab dengan mengerahkan kapal-kapal mini berkecepatan tinggi nan dilengkapi persenjataan.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·