As Fokus Ke Timteng, China Dinilai Perluas Manuver Di Indo-pasifik

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Konflik nan tengah berjalan di Timur Tengah tidak hanya berakibat pada aspek kemanusiaan dan keamanan regional, tetapi juga dinilai mulai mengubah lanskap strategis global.

Sejumlah pengamat menilai, konsentrasi Amerika Serikat nan tersedot ke area tersebut membuka ruang bagi China untuk memperluas pengaruhnya di Asia, khususnya Indo-Pasifik.

"Perhatian, sumber daya, dan daya diplomatik Washington nan terpusat di Timur Tengah menciptakan kondisi nan menguntungkan bagi Beijing," ujar Presiden Center for Indo-Pacific Strategic Studies, Profesor Pema Gyalpo, dalam keterangannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"China tidak perlu memicu krisis baru di area Asia, melainkan cukup memanfaatkan momen ketika perhatian dunia teralihkan," sambungnya.

Pola semacam itu dinilai bukan perihal baru, sebut Gyalpo, Dalam dua dasawarsa terakhir, periode keterlibatan intensif AS di Timur Tengah kerap diiringi dengan peningkatan aktivitas strategis China di Asia. Selama perang Irak pada 2003-2008, misalnya, Beijing memperluas kehadirannya di Laut China Selatan dengan relatif minim tekanan eksternal.

Situasi serupa juga terlihat pada 2021, ketika AS menarik pasukannya dari Afghanistan. Pada periode tersebut, Taiwan mencatat lebih dari 900 penerbangan pesawat militer China ke area identifikasi pertahanan udara (ADIZ), nomor tertinggi nan pernah tercatat.

"Aktivitas tersebut merupakan bagian dari strategi tekanan berjenjang nan dikalibrasi sesuai kondisi global," tutur Gyalpo, nan pernah menjadi perwakilan Dalai Lama untuk Jepang selama 15 tahun.

Keterbatasan pengedaran kekuatan militer AS dinilai menjadi aspek penting. Kehadiran satu golongan tempur kapal induk, nan melibatkan sekitar 7.500 personel dan keahlian tempur udara canggih, mempunyai akibat signifikan terhadap keseimbangan kekuatan. Ketika aset tersebut difokuskan ke area seperti Mediterania Timur alias Laut Merah, kehadirannya di Pasifik Barat otomatis berkurang.

Padahal, strategi Indo-Pasifik AS-yang dijalankan melalui kerja sama seperti AUKUS dan Quad-sangat berjuntai pada kehadiran militer di garis depan serta sinyal deterensi nan kredibel. Gyalpo mengatakan, pengurangan mini dalam kehadiran tersebut dinilai dapat mengubah kalkulasi strategis di kawasan.

Isu Taiwan dan India

Dampaknya terlihat di sekitar Taiwan dan wilayah sensitif lain di sekitar China. Dalam beberapa tahun terakhir, Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) meningkatkan latihan militer nan mencakup simulasi blokade, operasi amfibi, serta manuver campuran laut dan udara.

Selain itu, pelanggaran berulang terhadap garis tengah Selat Taiwan, nan sebelumnya berfaedah sebagai pemisah tidak resmi, dinilai telah mengikis norma lama. Gyalpo menilai, setiap pelanggaran nan hanya direspons dengan protes rutin tanpa tindakan lebih lanjut berkontribusi pada normalisasi situasi baru di kawasan.

Pola serupa juga terlihat di perbatasan India-China, meski dalam konteks berbeda. Bentrokan di Lembah Galwan pada Juni 2020 terjadi setelah mobilisasi militer China nan berjalan selama berminggu-minggu, bertepatan dengan periode ketika India tengah menghadapi akibat awal pandemi Covid-19 dan perhatian dunia terpecah.

Pascainsiden tersebut, dinamika di area perbatasan berkembang secara lebih senyap, dengan kombinasi penarikan pasukan sebagian dan pembangunan prasarana oleh China di sepanjang Line of Actual Control (LAC). Pengamat menilai, langkah-langkah ini secara kolektif mengubah keseimbangan strategis tanpa memicu bentrok terbuka.

Strategi dunia China

"Pendekatan China lebih mengandalkan akumulasi tindakan mini nan susah ditentang secara individual, tetapi signifikan jika dilihat secara keseluruhan," sebut Gyalpo.

"Hal ini memungkinkan Beijing membingkai ketegangan sebagai rumor bilateral, bukan bagian dari persaingan strategis nan lebih luas di Indo-Pasifik," lanjutnya.

Di sisi lain, kata Gyalpo, kekuasaan perhatian dunia terhadap bentrok Timur Tengah turut mengurangi sorotan terhadap perkembangan di Asia. Kondisi ini dinilai menurunkan biaya politik dan strategis bagi langkah-langkah berjenjang nan dilakukan China.

Dinamika ini disebut Gyalpo bukan sekadar oportunisme jangka pendek, melainkan bagian dari pola struktural dalam strategi China. Ia mengatakan Beijing condong memanfaatkan periode ketika pengawasan dunia melemah untuk melakukan penyesuaian berjenjang tanpa memicu eskalasi besar.

"Konflik di Timur Tengah tidak mengubah strategi dasar tersebut, tetapi memperpanjang kondisi nan membikin pendekatannya menjadi efektif," pungkas Gyalpo.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Sumber cnn-internasional