CNN Indonesia
Rabu, 08 Apr 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Ada beberapa kesalahan orang tua nan bikin anak jadi pemarah. (Istockphoto/ Nadezhda1906)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dalam proses mendidik anak, banyak orang tua merasa sudah mencoba beragam langkah disiplin terbaik, tetapi perilaku anak tetap susah dikendalikan. Akibatnya, anak tetap mudah marah, membantah, apalagi bersikap garang terhadap kerabat alias kawan sebayanya.
Simak beberapa kesalahan orang tua nan bikin anak pemarah nan perlu diketahui.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, situasi ini sering membikin orang tua bingung dan kehabisan strategi. Padahal, tanpa disadari, ada beberapa pola pengasuhan nan justru memperkuat emosi negatif pada anak.
Berdasarkan beragam penelitian psikologi, perilaku emosional anak seringkali dipengaruhi oleh langkah orang tua merespons dan membimbing mereka dalam kehidupan sehari-hari. Inilah sebabnya krusial memahami kesalahan orang tua nan bikin anak pemarah agar pola asuh dapat diperbaiki sejak dini.
Dengan pendekatan nan tepat, anak dapat belajar mengelola emosi secara sehat dan tumbuh menjadi pribadi nan lebih tenang.
Kesalahan orang tua nan bikin anak pemarah
Dilansir dari Parents, berikut kesalahan orang tua nan bikin anak pemarah nan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
1. Memarahi anak di depan umum
Menegur anak memang penting, terutama jika perilakunya berbahaya. Namun, memarahi anak di depan banyak orang justru membikin mereka merasa malu dan terancam.
Akibatnya, anak lebih konsentrasi pada rasa dipermalukan daripada memahami kesalahannya.
Sebaiknya ajak anak berbincang di tempat nan lebih privat agar pesan disiplin dapat diterima dengan baik tanpa melukai nilai dirinya.
2. Memberi petunjuk nan tidak jelas
Ilustrasi. Ada beberapa kesalahan orang tua nan bikin anak jadi pemarah. (Istockphoto/ SDI Productions)
Banyak orang tua mengatakan, "Jangan berantakan!" alias "Jangan nakal!" tanpa menjelaskan perilaku nan diharapkan. Instruksi nan terlalu umum membikin anak bingung.
Gunakan kalimat nan spesifik, misalnya: "Tolong gantung jaketmu setelah masuk rumah." Anak lebih mudah mengikuti pengarahan nan konkret dibanding larangan abstrak.
3. Menyuap anak untuk menghentikan tantrum
Memberikan bingkisan agar anak berakhir menangis mungkin terasa efektif dalam jangka pendek. Namun, kebiasaan ini justru mengajarkan bahwa perilaku jelek bisa menghasilkan keuntungan.
Jika terus dilakukan, anak bakal mengulang tantrum untuk mendapatkan apa nan diinginkan. Disiplin semestinya mengajarkan tanggung jawab, bukan transaksi.
4. Mengabaikan kondisi dasar anak
Anak nan lapar alias kelelahan lebih susah mengontrol emosi. Dalam kondisi tersebut, keahlian mereka untuk mendengarkan dan memahami patokan menurun drastis.
Sebelum menasehati anak, pastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi terlebih dahulu. Setelah anak merasa nyaman, barulah obrolan mengenai perilaku dapat dilakukan secara efektif.
Simak kesalahan orang tua nan bikin anak jadi pemarah lainnya di laman berikutnya..
Add
as a preferred source on Google
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·