Jakarta -
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengungkapkan mengalami kerugian dari proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) alias Whoosh sekitar Rp 1,7 triliun sampai Rp1,8 triliun.
Sebagai informasi, WIKA ikut menjadi pemegang saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium proyek KCIC. Komposisi pemegang saham PSBI ialah PT Kereta Api Indonesia (Persero) 58,53%, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 33,36%, PT Perkebunan Nusantara I 1,03%, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk 7,08%.
Sementara, komposisi pemegang saham Beijing Yawan HSR Co. Ltd ialah CREC 42,88%, Sinohydro 30%, CRRC 12%, CRSC 10,12%, dan CRIC 5%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Porsi kita itu setiap tahun membukukan kerugian nan memang cukup besar, jika tahun lalu, jika tahun 2025 jika nggak salah Rp 1,7 triliun alias Rp 1,8 triliun membukukan kerugian nyaris setiap tahun segitu," ujar Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito di instansi proyek Tol Harbour Road (HBR) II, Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).
Agung mengatakan dengan kerugian setiap tahunya tersebut sangat membebani keahlian finansial Perseroan. Kerugian ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Perseroan untuk mencetak untung secara optimal.
"Sehingga memang cukup berat WIKA ini untuk bisa, apa namanya, mempunyai untung nan baik lantaran kerugian dari kereta sigap ini rata-rata per tahun Rp 1,8 triliun membukukan kerugian," katanya.
Agung menambahkan perseroan menginginkan untuk bisa melepas investasi di proyek kereta sigap tersebut. Harapannya kerugian tiap tahunnya bisa berkurang.
Namun, Agung mengakui proses tersebut tidaklah mudah. Sebab, keterlibatan WIKA dalam proyek ini tercantum dalam Peraturan Presiden.
"Sehingga tidak mudah buat kita untuk bisa melepas aset kereta cepat. Sehingga nan bisa kita lakukan, ya kita minta pemerintah ataupun Danantara sebisa mungkin WIKA nan memang kondisinya sebenarnya kontraktor untuk tidak masuk ke situ, ya. Tetapi ini tentu menjadi apa namanya domaindnya daripada government alias Danantara," ujarnya.
Terkait dengan klaim senilai Rp 5,02 triliun atas pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Whoosh, Agung mengatakan, proses media tersebut sekarang sedang berlangsung. Ditargetkan rampung tahun ini.
Proses klaim tersebut sudah sampai ke Pusat Arbitrase Internasional Singapura namalain Singapore International Arbitration Centre (SIAC). Namun lantaran adanya kesepakatan antara KCIC dan WIKA proses tersebut akhirnya tidak jadi dibawa ke sana.
"Atas kesepakatan antara WIKA dan KCIC, kita sedang di mediasi. Jadi sedang tahap proses mediasi nan sekarang sedang proses. Sehingga sementara untuk nan arbitrase ditunda dulu, sebisa mungkin pihak antara WIKA dan KCIC ini melalui mediasi nan ada di WIKA. Target penyelesaian sih tahun ini bisa selesai," katanya.
(hrp/hns)
4 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·