Aksi tak biasa terjadi di Paris, Prancis. Puluhan aktivis lingkungan menggelar upacara pemakaman simbolis untuk Windows 10 sebagai corak protes terhadap keputusan Microsoft nan bakal menghentikan support sistem operasi tersebut.
Acara nan berjalan di salah satu taman publik ini dihadiri golongan nan kerap disebut sebagai "pembenci" Windows 11. Mereka datang mengenakan busana serba hitam, membawa bunga, poster, hingga replika peti meninggal bertuliskan "Windows 10 RIP" sebagai simbol perpisahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi ini bukan sekadar seremoni unik. Para peserta mau menyoroti akibat lingkungan dari kebijakan penghentian support Windows 10 nan dijadwalkan pada 14 Oktober 2025. Mereka menilai keputusan tersebut berpotensi memicu lonjakan limbah elektronik (e-waste) dalam skala besar.
"Jutaan komputer nan tetap berfaedah dengan baik bisa berhujung di tempat sampah hanya lantaran tidak lagi mendapat pembaruan keamanan," ujar salah satu peserta tindakan dikutip dari Neowin.
Menurut para aktivis, banyak perangkat lama tidak memenuhi syarat untuk menjalankan Windows 11 lantaran kebutuhan hardware nan lebih tinggi. Hal ini dinilai memaksa pengguna melakukan upgrade perangkat, bukan sekadar software.
Enam Organisasi Turun Aksi
Protes ini melibatkan enam organisasi lingkungan dan konsumen besar di Prancis, antara lain Non-Violent Action COP21, Alternatiba, April, Stop Planned Obsolescence, Que Choisir Ensemble, dan Zero Waste France.
Mereka mendesak Microsoft untuk memperpanjang support teknis Windows 10 hingga setidaknya tahun 2030. Selain itu, mereka juga meminta perusahaan menyediakan solusi pembaruan keamanan nan lebih terjangkau bagi perangkat lama.
"Kami menolak budaya buang dan ganti. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal masa depan lingkungan," kata ahli bicara koalisi.
Tak hanya itu, para aktivis juga mendorong pengguna untuk mempertimbangkan migrasi ke sistem operasi berbasis Linux seperti Ubuntu, Linux Mint, alias Fedora. Mereka menilai Linux menawarkan support jangka panjang tanpa memaksa penggantian perangkat keras.
Hingga buletin ini diturunkan, Microsoft belum memberikan tanggapan resmi mengenai tindakan protes tersebut.
Upacara pemakaman simbolis ini menjadi salah satu corak kritik imajinatif terhadap industri teknologi global. Di tengah meningkatnya kesadaran bakal rumor lingkungan, kebijakan perusahaan besar sekarang tak hanya dinilai dari sisi inovasi, tetapi juga dampaknya terhadap keberlanjutan planet.
Pemerintah Prancis Mulai Beralih ke Linux
Aksi ini semakin relevan lantaran pemerintah Prancis sendiri mulai mengurangi ketergantungan pada sistem operasi berbasis produk luar. Melalui lembaga digitalnya, DINUM, pemerintah mendorong penggunaan solusi open-source, termasuk Linux, di beragam instansi.
Setiap kementerian apalagi diminta menyusun rencana untuk mengurangi penggunaan sistem asing, dengan konsentrasi pada peningkatan kedaulatan digital dan keamanan info nasional.
Langkah ini dianggap sebagai sinyal kuat bahwa transisi ke platform pengganti bukan perihal mustahil, sekaligus mendukung upaya pengurangan akibat lingkungan dari industri teknologi.
Namun nan menarik untuk ditunggu ekosistem open-source seperti apa nan bakal dipilih oleh pemerintah Prancis ke depannya. Mereka kemungkinan besar bakal mengandalkan software nan memang dikembangkan di wilayah Eropa seperti sistem operasi openSUSE alias paket LibreOffice.
Langkah radikal Prancis ini sepertinya bisa menjadi contoh nan sangat bagus bagi negara lain nan mau membangun kemandirian teknologi. Bergantung sepenuhnya pada satu penyedia software asing tentu merupakan keputusan nan berisiko untuk menjaga keamanan info skala nasional.
(afr/afr)
6 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·