Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman ke Iran untuk membuka Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan minyak dunia di tengah perang keduanya nan tetap berlangsung.
Trump menakut-nakuti AS bakal menggempur akomodasi publik di Iran seperti pembangkit listrik dan jembatan-jembatan jika Teheran tak kunjung mau membuka Selat Hormuz bagi kapal-kapal nan lewat. Ia apalagi sampai mengucap 'Alhamdulillah' saat mengutuk Iran dalam unggahannya di media sosial buatannya, Truth Social, pada Minggu (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selasa bakal menjadi 'Hari Pembangkit Listrik' dan 'Hari Jembatan', semuanya digabung menjadi satu di Iran. Tidak bakal ada nan seperti itu!!! Buka Selat sialan itu, brengsek, alias kalian bakal hidup dalam neraka. LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah," kata Donald Trump dalam unggahannya
Dia juga kembali menakut-nakuti bakal menggempur akomodasi daya hingga sipil pada pekan ini.
"Selasa bakal menjadi Hari Pembangkit Listrik, Hari Jembatan, semuanya digabung jadi satu di Iran. Tidak akan, ada nan seperti itu," ungkap Trump lagi.
Di unggahan lain, Trump menulis Selasa pukul 20.00 waktu bagian Timur, nan sepertinya merujuk jam AS menggempur Iran.
Presiden AS ini acapkali menakut-nakuti Iran untuk membuka akses Selat tersebut. Pada 26 Maret, Trump juga melontarkan dorongan serupa.
Para pejabat Iran mengecam Trump. Utusan PBB di Iran lampau meminta bumi bertindak untuk mencegah ancaman itu.
"Sekali lagi, presiden AS secara terbuka menakut-nakuti bakal menghancurkan prasarana nan krusial bagi kelangsungan hidup penduduk sipil di Iran," kata dia, dikutip Al Jazeera, Minggu.
Perwakilan Iran itu kemudian berujar, "Komunitas internasional dan semua negara punya tanggungjawab norma untuk mencegah tindakan kejahatan perang nan biadab itu. Mereka kudu bertindak sekarang."
Dia juga berjanji Iran bakal membalas setiap serangan nan dilakukan AS ataupun sekutu dekatnya Israel.
Di samping menakut-nakuti Iran, Trump terus sesumbar sedang mengupayakan negosiasi untuk gencatan senjata. Trump lampau menunda rencana menggempur akomodasi daya negara tersebut.
Namun, Iran tak gentar. Mereka tetap menolak untuk membuka akses itu bagi AS, negara sekutu serta afiliasinya.
AS dan sekutunya Israel menggempur habis-habisan Iran sejak 28 Februari alias genap memasuki lima pekan. Operasi ini menyebabkan Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan ribuan penduduk sipil tewas.
Di hari itu, Iran langsung meluncurkan serangan jawaban ke Israel dan aset AS di negara-negara Teluk. Mereka juga menutup Selat Hormuz untuk menekan AS-Israel.
Penutupan imbas gempuran AS-Israel itu memicu kekhawatiran krisis daya di beragam wilayah. Sejumlah negara ramai-ramai menetapkan strategi unik seperti meminta ASN bekerja dari rumah hingga membatasi pembelian BBM.
(isa/rds)
Add
as a preferred source on Google
4 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·