Trump Pernah Blokade Venezuela-culik Maduro, Apakah Berhasil Ke Iran?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah kandas perundingan gencatan senjata dengan Iran di Islamabad, Pakistan, Jumat (10/4), Presiden Amerika Serikat Donald Trump blokade Selat Hormuz mulai Senin (13/4) waktu AS.

Dilansir Reuters, dalam sebuah unggahan di Truth Social Trump juga mengatakan AS bakal mengambil tindakan terhadap setiap kapal di perairan internasional nan telah bayar bea masuk kepada Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak seorang pun nan bayar bea masuk terlarangan bakal mempunyai jalur kondusif di laut lepas. Setiap penduduk Iran nan menembak kita, alias kapal-kapal damai, bakal DIHANCURKAN!" tulis Trump.

Bukan nan pertama

Tindakan Trump memblokade laut bukanlah nan pertama. Pada Desember 2025 lampau dia pun dengan semena-mena memblokade laut Venezuela sebelum menculik Presiden Nikolas Maduro.

Trump mengumumkan "blokade total dan menyeluruh" terhadap seluruh kapal tanker minyak nan dikenai hukuman nan masuk alias keluar dari Venezuela, seraya menyebut pemerintahan Presiden Nicolas Maduro sebagai "organisasi teroris asing."

"Venezuela sepenuhnya dikepung oleh armada terbesar nan pernah dikerahkan dalam sejarah Amerika Selatan," tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social. Ia mengatakan blokade tersebut bakal tetap diberlakukan hingga Caracas mengembalikan "seluruh minyak, wilayah, dan aset lainnya."

Trump menuduh rezim Nicolas Maduro menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai "terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan."

Ia juga mengatakan bahwa penduduk negara Venezuela nan sebelumnya dikirim ke AS sekarang tengah dipulangkan "dalam jumlah besar dan dengan cepat."

Operasi ini melibatkan 15.000 tentara dan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald Ford. Dengan mencegat kapal tanker nan membawa jutaan barel minyak mentah, blokade tersebut menargetkan sumber utama pendapatan devisa bagi rezim tersebut, menunjukkan gimana penolakan maritim digunakan untuk melumpuhkan negara.

Namun Iran justru tidak gentar. "Jika mereka melawan, kami bakal melawan, dan jika mereka mengusulkan argumen logis, kami bakal menghadapinya dengan logika," tegas Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, di Teheran usai kembali dari Islamabad, Pakistan, dimuat AFP, Senin (13/4/2026).

Setelah kegagalan perundingan gencatan senjata di Islamabad, Pakistan, AS dan Iran kembali terlibat ketegangan.

Sejumlah pengamat pun meragukan langkah AS memblokade Selat Hormuz bisa menghentikan perlawanan Iran terhadap AS.

Profesor John Mearsheimer, seorang intelektual politik di Universitas Chicago, mengatakan bahwa arah perang saat ini merupakan kekalahan bagi AS dan Israel, khususnya setelah Iran menguasai Selat Hormuz.

Ia menjelaskan Israel mempunyai tiga tujuan strategis utama di Timur Tengah, ialah pertama, memperluas perbatasan termasuk di Tepi Barat, Jalur Gaza, Lebanon selatan, Sungai Litani, apalagi Semenanjung Sinai; kemudian, melakukan pembersihan etnis di wilayah nan dikuasainya khususnya di Gaza dan Tepi Barat; dan ketiga, memastikan negara-negara tetangganya tetap selemah mungkin.

Tiga tujuan ini, kata Mearsheimer, dilakukan Israel dengan dua cara, ialah dengan mempertahankan negara-negara tetangga seperti Yordania dan Lebanon agar tetap tunduk kepada AS, serta dengan menghancurkan dan melemahkan negara-negara nan lebih besar seperti Suriah, Iran, dan Turki.

Menurut Mearsheimer, agresi Israel di Gaza adalah contoh langkah Israel dalam mencapai dua tujuan pertama.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Sumber cnn-internasional